Kumparan Logo

Harga BBM Diminta Tidak Naik, Potensi Pendapatan Pertamina Bisa Tergerus

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, dalam sesi wawancara BUMN Pertamina di SPBU Pertamina Abdul Muis, Tanah Abang, Jakarta pada Kamis (14/12/2023). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, dalam sesi wawancara BUMN Pertamina di SPBU Pertamina Abdul Muis, Tanah Abang, Jakarta pada Kamis (14/12/2023). Foto: Widya Islamiati/kumparan

PT Pertamina (Persero) menanggapi pemerintah yang ingin menahan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik itu bersubsidi dan nonsubsidi, hingga Juni atau akhir semester I 2024.

Pertamina sudah menahan harga BBM nonsubsidi dua kali, Februari dan Maret 2024. Saat ini, harga Pertamax dibanderol Rp 12.950 per liter, Pertamax Green 95 Rp 13.900 per liter, Pertamax Turbo Rp 14.400 per liter, Dexlite Rp 14.550 per liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100 per liter.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, mengatakan pihaknya masih mengevaluasi faktor yang memengaruhi perubahan harga BBM, yaitu harga publikasi Mean of Platts Singapore (MOPS)/Argus, harga minyak mentah, serta nilai tukar rupiah.

Menurut Irto, harga MOPS, nilai tukar rupiah, dan tren harga minyak mentah saat ini masih fluktuatif. Jika ada tren kenaikan namun harga BBM tidak ikut naik, maka ada potensi pendapatan bakal tergerus.

"Bila tidak adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sementara MOPS dan kurs naik, tentunya akan mengoreksi potensi revenue perusahaan," ungkap Irto saat dihubungi kumparan, Sabtu (2/3).

Di sisi lain, kata Irto, Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) terkait kenaikan tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Untuk kawasan DKI Jakarta sendiri, tarifnya masih di 5 persen.

"Untuk sementara harga BBM nonsubsidi hari ini 1 Maret 2024 tidak ada perubahan, jadi masih sama dengan harga sebelumnya," tutur Irto.

Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina Jalan Riau, Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/62023). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan upaya menahan kenaikan harga BBM ini demi kelancaran aktivitas masyarakat. Permintaan tersebut disampaikan Arifin di depan Wakil Direktur Utama Pertamina, Wiko Migantoro.

"Kita masih menahan agar BBM tidak naik, terutama pada semester awal 2024 ini. Enggak boleh naik, Pak Wiko, jadi supaya aktivitas masyarakat tidak terganggu," ujar Arifin saat Peresmian Tajak Sumur Infill dan Clastic di Blok Cepu, Bojonegoro, Jumat (1/3).

Arifin mengatakan, pemerintah masih perlu menstabilkan kondisi usai Pilpres 2024, terutama di tengah masih mahalnya harga beras yang dikeluhkan masyarakat.

"Kita masih perlu menstabilkan kondisi sesudah pasca pemilu dan ditengarai dengan adanya harga beras yang meningkat," ungkapnya.

Selain Arifin, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga memastikan tarif listrik dan BBM tidak akan naik hingga Juni 2024.

"Tadi diputuskan dalam sidang kabinet paripurna tidak ada kenaikan listrik, tidak ada kenaikan BBM sampai Juni 2024, baik itu yang subsidi,” kata Airlangga di kantornya, Senin (26/2).

Airlangga mengatakan, keputusan tersebut menyebabkan target defisit APBN 2024 melebar. Mulanya, pemerintah memasang target 2, 29 persen dari produk domestik bruto (PDB) kemudian angka itu melebar menjadi 2,8 persen.

Tak hanya itu, kuota untuk subsidi pupuk yang ditambah dan anggaran jumbo untuk program bantuan langsung tunai (BLT) juga menjadi alasan defisit melebar.

"Itu akan membutuhkan additional anggaran untuk Pertamina maupun PLN dan itu nanti akan diambil baik dari sisa SAL maupun pelebaran defisit anggaran di 2024," ungkapnya.