Kumparan Logo

Kebutuhan Migas Terus Meningkat di Tengah Tren Penggunaan EBT

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Migas, Pertamina Hulu Energi. Foto: Dok. Pertamina Hulu Energi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Migas, Pertamina Hulu Energi. Foto: Dok. Pertamina Hulu Energi

Denyut ekonomi Indonesia kini telah pulih setelah dihantam pandemi. Masyarakat sudah kembali menjalani kehidupan secara normal.

Hal tersebut terlihat dari aktivitas di jalan yang sudah kembali dijejali kendaraan, baik angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Kondisi itu juga yang membuat kebutuhan energi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia meningkat.

Energi memang menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi masyarakat. Bahan bakar minyak dan gas menjadi tulang punggung masyarakat mencari rezeki.

Terlihat di salah satu SPBU milik Pertamina di kawasan Jatinegara Timur Jakarta Timur dan SPBU di Jalan Minangkabau Timur Jakarta Selatan. Antrean kendaraan di kedua SPBU milik Pertamina tersebut tidak kunjung berhenti melayani konsumen.

Seorang pegawai retail berusia 19 tahun, Adha, yang ditemui kumparan. Adha menyebutkan BBM menjadi kebutuhan utama untuk dia bekerja. Menurut dia, kendaraan berbasis energi fosil harganya masih terjangkau dibandingkan kendaraan listrik.

“Saya lebih nyaman kendaraan BBM, masih terbatas kalau kendaraan listrik. (Transisi energi) itu perubahan yang sangat besar ya,” Kata ada saat ditemui kumparan di SPBU Jalan Minangkabau Timur Jakarta Selatan pada Kamis (2/11).

Senada dengan Adha, seorang pengemudi ojek online berusia 62 tahun, M Arief, juga berpendapat serupa. Arief bilang, ia belum siap menanggalkan kendaraan konvensional.

“Saya sih belum mantap kalau (kendaraan) listrik,” Kata Arif.

Kendati demikian, Arief menyebutkan di kemudian hari ia akan mengikuti program transisi energi yang dibesut oleh pemerintah ini. “Nanti mau nggak mau yang ngikutin kalau kebanyakan listrik. Tapi kalau ini (kendaraan konvensional) masih ada ya pakai ini aja, sampai habis baru saya pindah (ke kendaraan listrik),” kata Arief.

Komitmen transisi energi yang digaungkan seluruh negara memang membuat Indonesia turut serta menetapkan target pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), target EBT dalam bauran energi primer sebesar 23 persen di tahun 2025 dan 31 persen di tahun 2025 dan 31 persen di tahun 2050.

Menteri ESDM Arifin Tasrif didampingi Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati mendapat penjelasan soal pengeboran sumur migas Gulamo di Blok Rokan. Foto: Dok. Kementerian ESDM

Perlu Investasi Jumbo

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan investasi sebesar USD 186,7 miliar atau sekitar Rp 2.800 triliun untuk mencapai target produksi migas di tahun 2030.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, menuturkan sektor hulu migas tengah berupaya meningkatkan produksi migas nasional untuk memenuhi kebutuhan domestik yang semakin meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada tahun 2050, volume konsumsi minyak diperkirakan naik 139 persen, sementara volume konsumsi gas diprediksi naik 298 persen. Dwi menilai iklim investasi di hulu migas terus diperbaiki melalui insentif dan perubahan kebijakan fiskal.

“Daya tarik investasi di sektor hulu migas di Indonesia sebenarnya sudah membaik, namun masih ada hal-hal yang harus terus diperbaiki,” katanya melalui keterangan resmi, Rabu (6/9).

Dwi memaparkan, berbagai upaya yang dilakukan untuk memperbaiki iklim investasi hulu migas mulai menunjukkan dampak positif. Sejak 2021, investasi di hulu migas terus mengalami kenaikan. Investasi di hulu migas pada tahun 2022 mencapai USD 12,3 miliar atau naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara di tahun 2023 ini, lanjut Dwi, investasi hulu migas ditargetkan mencapai USD 15,5 miliar atau naik 26 persen dibanding tahun lalu.

Upaya PHE Genjot Produksi Migas dan Turunkan Emisi

Setelah dua tahun berdiri menjadi Subholding Upstream PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memastikan ketahanan energi nasional dengan terus menggali potensi minyak dan gas bumi (migas) di dalam negeri.

Hingga Agustus 2023, PHE mencatat total produksi year to date (ytd) sebesar 1,04 juta barel minyak ekuivalen per hari (MMBOEPD) yang merupakan gabungan dari 570 ribu barel minyak per hari (MBOPD) serta 2.760 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Pertamina Hulu Energi. Foto: Dok. Pertamina

Hal ini dihasilkan dari penyelesaian pengeboran 502 sumur pengembangan, 511 work over (kerja ulang pindah lapisan), dan 21.764 well service well intervention (reparasi dan intervensi sumur).

Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Awang Lazuardi, mengatakan strategi utama menggenjot produksi yaitu mengelola baseline produksi, meningkatkan production growth melalui rencana kerja dan merger & acquisition, serta meningkatkan reserve & resource growth dengan mengedepankan aspek Environment, Social, Governance (ESG).

Salah satu strategi yang sudah berjalan adalah kemitraan yang merupakan implementasi sinergi dengan berbagai macam mekanisme. Mekanisme kemitraan yang pertama adalah sharing Participating Interest (PI) di suatu wilayah kerja migas dengan mitra strategis dari sisi finansial dan teknologi.

“Penerapan mekanismenya adalah Wilayah Kerja Offshore Southeast Sumatera (OSES) di mana 10 persen PI dikelola oleh BUMD serta kepemilikan PI dengan mitra lainnya seperti pengelolaan Blok Cepu bersama Exxon Mobil Cepu Ltd. (EMCL), dan Ampolex Pte Ltd,” kata dia dalam keterangan resmi, Jumat (29/9).

Pada era transisi energi, PHE mendukung strategi Pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060, salah satunya dengan pemanfaatan gas sebagai energi transisi yang ramah lingkungan.

Hingga saat ini, PHE berhasil melakukan capaian strategis antara lain mendapatkan award WK eksplorasi dengan mayoritas sumber daya gas di Peri Mahakam & Bunga yang berlokasi di Indonesia timur, East Natuna di area perbatasan negara Indonesia-Malaysia-Vietnam, dan project strategis nasional Masela. Temuan eksplorasi gas di Wilela, Wolai kompleks dan Mantapu 1-X juga mendukung babak baru ketahanan energi dan transisi gas nasional ke depan.

Tercatat, penurunan emisi sebesar 854,225 ribu ton CO2 ekuivalen merupakan bagian keberhasilan program dekarbonisasi energi efisiensi dan low carbon power yang dimiliki PHE.

Selain itu, keberhasilan CO2 injeksi Jatibarang atau CO2 injeksi pertama di Indonesia pada bulan oktober 2022. PHE juga telah menginisiasi beberapa kerjasama CCUS/CCS di wilayah kerja eksisting sehingga PHE pantas mendapatkan ESG rating sebesar 31.2 atau peringkat 31 dari 301 perusahaan migas di dunia.