Kumparan Logo

Luhut Turun Tangan Mau Bangun Industri Minyak Jelantah Pengganti Avtur

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Marves), Luhut B Pandjaitan, turun tangan memimpin Rapat Rancangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, Rabu (29/5).dok. instagram @luhut.pandjaitan.
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Marves), Luhut B Pandjaitan, turun tangan memimpin Rapat Rancangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, Rabu (29/5).dok. instagram @luhut.pandjaitan.

Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Marves), Luhut B Pandjaitan, turun tangan memimpin Rapat Rancangan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Pengembangan Industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia, Rabu (29/5). Adapun SAF merupakan pengganti bahan bakar pesawat yang dibuat dari minyak jelantah atau used cooking oil.

“Pernahkah terpikirkan bahwa minyak jelantah atau used cooking oil dapat menjadi bahan bakar untuk industri aviasi atau penerbangan? Hal ini ternyata sudah lumrah dilakukan di beberapa negara tetangga kita, seperti Malaysia dan Singapura,” kata Luhut seperti dikutip dari instagram pribadinya, @luhut.pandjaitan, Rabu (29/5).

Luhut menilai Indonesia memiliki potensi pasokan 1 juta liter minyak jelantah tiap tahunnya. Di mana, 95 persen dari pasokan tersebut di ekspor ke beberapa negara.

Bahan bakar pesawat dengan minyak jelantah (SAF) ini menjadi penting, karena berdasarkan data IATA, Indonesia diprediksi akan menjadi pasar aviasi terbesar keempat di dunia dalam beberapa dekade ke depan, dengan asumsi kebutuhan bahan bakar ini mencapai 7.500 ton liter hingga 2030.

“Sebagai informasi, Pertamina sebagai pemimpin di bidang transisi energi sudah melakukan uji coba statis yang sukses dari SAF, untuk digunakan pada mesin jet CFM56-7B. Hal ini membuktikan bahwa produk mereka layak digunakan pada pesawat komersil,” tutur Luhut.

Dengan demikian, hal ini menjadi penting karena penciptaan nilai ekonomi melalui kapasitas produksi kilang-kilang biofuel Pertamina, diestimasikan bahwa penjualan SAF secara domestik dan ekspor dapat menciptakan keuntungan lebih dari Rp 12 triliun per tahunnya.

Selain itu, pengembangan industri SAF juga akan menjadi pintu masuk investasi kilang biofuel lebih lanjut dari swasta maupun BUMN. Seiring meningkatnya aktivitas penerbangan, emisi karbon yang dihasilkan juga akan terus bertambah. Oleh karena itu, intervensi untuk mengurangi emisi karbon menjadi penting.

“Dari berbagai data dan kajian, bisa saya simpulkan bahwa SAF adalah solusi paling efektif untuk mewujudkan masa depan penerbangan yang ramah lingkungan di Indonesia. Sehingga upaya menciptakan Bahan Bakar Aviasi Ramah Lingkungan (SAF) ini bukan hanya menjadi inovasi semata, melainkan suatu komitmen dalam upaya mengurangi emisi karbon global,” tambah Luhut.

Dirinya pun menargetkan SAF buatan Indonesia bisa dirilis selambat-lambatnya pada acara Bali Air Show, September 2024.

instagram embed