Papua Punya Potensi PLTA Jumbo Buat Hidrogen, Bisa Diekspor ke Jepang

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan potensi jumbo Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah Papua bisa dimanfaatkan untuk produksi hidrogen dan bisa diekspor.
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Jisman P Hutajulu, menyebutkan salah satu tujuan pemanfaatan PLTA di Papua yang tengah dipertimbangkan Menteri ESDM Arifin Tasrif adalah untuk produksi hidrogen dan amonia.
"Demand belum ada dan Pak Menteri sudah memikirkan ke situ, segera dimanfaatkan dan salah satunya adalah untuk hidrogen dan amonia, dibuat studinya gitu ya," kata Jisman saat Peresmian SPBU Hidrogen pertama di Indonesia, Rabu (21/2).
Produksi hidrogen dan amonia tersebut, kata dia, sebagian bisa diekspor. Dia menyebutkan Jepang sudah berminat dengan syarat harga listrik dari PLTA tersebut dibuat murah, sekitar 4 sen per KWh.
"Tadi sudah ngomong-ngomong sama pawang hidrogen tadi, bahwa pihak Jepang sudah menginginkan asal harga listriknya mungkin di sekitar ya kalau saya sebut sekitar 5 sen masih di-absorb untuk harga hidrogennya," tutur Jisman.
Jisman mengungkapkan potensi PLTA yang bisa dikembangkan di Papua mencapai 8-10 GW. Namun, menurut PT PLN (Persero), ternyata potensinya bisa lebih besar dari itu.
Ditemui terpisah, Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, mengatakan kapasitas PLTA berskala besar di Papua tersebut bisa mencapai 15-20 GW sehingga memerlukan ekosistem industri yang besar.
"Salah satu kemungkinan kita buka pabrik hidrogen di sana, jadi air yang ada di sana bisa kita pakai proses elektro bisa air diubah jadi oksigen dengan hidrogen dengan memakai energi dari PLTA yang ada di sana," jelasnya.
Edwin menyebutkan, Jepang kemungkinan menjadi salah satu offtaker atau pembeli hidrogen hasil produksi PLTA di Papua. Di sisi lain, dia belum memastikan apakah PLN akan berinvestasi di Papua.
"Kita undang para investor untuk yang kan kebutuhan hidrogen ini besar di dunia, mungkin bisa ekspor ke jepang misalnya begitu jika ada industri yang siap bangun tersebut kita bangun pabriknya di sana dengan PLTA di sana," jelasnya.
"Kita pasti undang semua itu infrastruktur yang besar sekali, kita kan kolaborasi dengan industri yang ada," kata Edwin.
