Kumparan Logo

Pemerintah Pastikan Harga Listrik dan BBM Tak Naik sampai Juni 2024

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di kantornya, Senin (5/2/2024). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di kantornya, Senin (5/2/2024). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memastikan tarif listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak akan naik hingga Juni 2024.

“Tadi diputuskan dalam sidang kabinet paripurna tidak ada kenaikan listrik, tidak ada kenaikan BBM sampai Juni 2024, baik itu yang subsidi,” kata Airlangga di kantornya, Senin (26/2).

Airlangga mengatakan, keputusan tersebut menyebabkan target defisit APBN 2024 melebar. Mulanya, pemerintah memasang target 2,29 persen dari produk domestik bruto (PDB) kemudian angka itu melebar menjadi 2,8 persen.

Tak hanya itu, kuota untuk subsidi pupuk yang ditambah dan anggaran jumbo untuk program bantuan langsung tunai (BLT) juga menjadi alasan defisit melebar.

"Itu akan membutuhkan additional anggaran untuk Pertamina maupun PLN dan itu nanti akan diambil baik dari sisa SAL maupun pelebaran defisit anggaran di 2024," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memberi sinyal kenaikan harga BBM bulan depan. Kenaikan harga tersebut untuk BBM nonsubsidi.

Pengendara kendaraan bermotor mengantre membeli bahan bakar di SPBU Pertamina di kawasan Bekasi, Jawa Barat, Senin (23/1/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Arifin menjelaskan kenaikan harga BBM nonsubsidi sejalan dengan tingginya harga minyak mentah dunia. Saat ini, harga minyak mentah dunia tembus USD 82 per barel atau naik USD 6 per barel.

"Kalau nonsubsidi kan formula harga indeks minyak kan. Sekarang kan USD 82 per barel. Dibandingkan tahun lalu, ada kenaikan USD 6. Ini tentu kan mempengaruhi biaya produksi," kata Arifin di Kantor Ditjen Migas, Jumat (16/2).

Arifin mengungkapkan, seluruh badan usaha memiliki hak untuk melakukan penyesuaian harga seiring dengan tingginya harga minyak dunia.

"Badan usaha ini akan evaluasi pasti. Naik tidaknya tergantung daya tahan dari badan usahanya itu sendiri. Mereka kan juga saling berkompetisi," ungkapnya.

Meski begitu, Arifin memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik. "Kalau subsidi akan tetap kita jaga dan tahan," tegasnya.

instagram embed