Kumparan Logo

Sri Mulyani Sebut Belum Ada Pembahasan Evaluasi Subsidi Energi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara memberikan keterangan di Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/5). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara memberikan keterangan di Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (18/5). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut belum ada pembahasan mengenai subsidi energi. Adapun, pemerintah memang sedang menahan harga BBM , LPG, dan listrik bersubsidi hingga Juni mendatang.

Bendahara negara itu mengatakan pihaknya masih fokus menyusun pembahasan Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) sebagai dasar pembuatan APBN 2025.

"Saya belum ada perubahan, kita sedang fokus membahas pelaksanaan APBN (2025)," kata Sri Mulyani kepada wartawan di Istana Negara, Rabu (22/5).

Sri Mulyani mengungkapkan, pemerintah sudah menetapkan volume hingga anggaran untuk subsidi energi dalam APBN 2024. Dalam hal ini, Kementerian Keuangan akan mendukung langkah kebijakan dari kementerian ESDM dan perusahaan BUMN terkait, yakni Pertamina dan PLN dalam menyediakan energi murah untuk masyarakat.

Sri Mulyani tidak bisa memastikan apakah harga BBM, LPG, dan listrik bersubsidi akan mengalami kenaikan usai pemerintah melakukan evaluasi subsidi energi. "Saya enggak (bisa memastikan), belum update ya mengenai itu," tegasnya.

Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah bakal melakukan kalibrasi alias penyesuaian kembali anggaran subsidi energi. Hal itu dilakukan sekaligus merespons memanasnya konflik Iran-Israel yang memicu tingginya harga minyak dunia.

Petugas melayani pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi

"Kita juga dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam negeri terutama terkait dengan subsidi. Ini kita juga harus mengkalibrasi lagi anggaran yang digunakan," kata Airlangga kepada awak media di kantornya, Selasa (16/4).

Berdasarkan data Reuters, harga Brent berjangka untuk pengiriman bulan Juni ditutup pada USD 90,10 per barel, turun 35 sen, atau 0,4 persen. Minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei turun 25 sen, atau 0,3 persen menjadi USD 85,41 per barel.

Airlangga mengakui konflik geopolitik tersebut memang memberikan tekanan terhadap ekonomi global. Untuk itu, Airlangga mengatakan pemerintah akan menyiapkan sejumlah kebijakan untuk merespons.

"Kita harus mempersiapkan terhadap berbagai shock dan kita belum selesai dari global shock, perang Ukraina masih ada, Israel-Gaza masih ada. Tapi dunia cannot afford another war," ungkapnya.

Airlangga mengatakan proses evaluasi anggaran BBM subsidi akan dilakukan paling lambat Juni. Ia memastikan, harga BBM tidak akan naik hingga Juni tahun ini.

"Kita melihat satu sampai dua bulan situasi seperti apa (untuk melakukan kalibrasi harga BBM subsidi). Kalau tidak ada eskalasi kita berharap minyak bisa flatten. Tetapi kalau ada ekskalasi tentu berbeda," ujarnya.

instagram embed