Konten dari Pengguna

Sorot Balik Kisah Perjuangan Paulo Freire di Dunia Pendidikan

Nadia Saskia Putri

Nadia Saskia Putri

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nadia Saskia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pemikiran Paulo Freire tentang dunia pendidikan sangatlah mendalam. Buku Pendidikan Kaum Tertindas merupakan karangan Paulo Freire yang ditulis dari hasil pengamatan Freire selama enam tahun dalam pengasingan politik dan juga pengamatan dari kegiatan-kegiatan kependidikan Freire. Kepedulian Freire terhadap orang yang tak berdaya, terasing, dan mereka yang tertindas membuat Freire bekerja keras untuk membuat sebuah perubahan.

Ketertarikan Freire dalam dunia pendidikan menjadikan Freire sebagai seorang yang bercita-cita untuk mengubah sistem pendidikan yang dianggapnya salah. Sedikitnya warga Brazil yang mengenal aksara, membuat Presiden Brazil, Joao Goulsrt mengangkat Freire menjadi bagian dari Universitas Recife. Dalam jabatannya ini, Freire membuat progam kenal aksara yang dilakukan untuk kalangan petani. Kemudian, di pertengahan tahun 1963 - 1964 Freire dan tim bekerja untuk rakyat tuna aksara di seluruh Brazil. Hanya dalam kurun waktu 45 hari, Freire dan timnya sudah mampu untuk mengajari masyarakat Brazil yang mengalami tuna aksara untuk bisa membaca dan menulis.

Kebutuhan akan kemanusiaan yang dicetuskan oleh Freire sudah saatnya untuk dijunjung tinggi tidak hanya dalam aspek sosial saja namun juga dalam segala aspek. Kaum tertindas biasanya hanya mampu untuk meminta belas kasih. Namun, bagaimana pun kita juga harus menghargai perjuangan dari kaum tertindas untuk membebaskan diri dari para penindas guna memulihkan kembali hak kemanusiaan mereka yang telah dirampas dan juga melawan para penindas yang melakukan penindasan. Para penindas biasanya menunjukkan kebaikan hatinya, hal itu sering kali terjadi karena penindas ingin dihormati oleh yang tertindas.

Freire ingin semua kalangan bisa mendapatkan pendidikan tak terkecuali untuk kaum yang tertindas. Dalam pendidikan seharusnya tidak boleh ada sebuah diskriminasi, untuk itu Freire mencoba untuk membuat sebuah perubahan-perubahan yang substansial. Adanya sistem pendidikan dengan perasaan fear of fredom atau takut kebebasan membuat Freire ingin mengubah sistem pendidikan tersebut dengan sistem kebebasan. Di zaman sekarang, metode pendidikan dengan sistem kebebasan sudah mulai berkembang pesat. Kebebasan dalam berpendapat, tidak adanya diskriminasi di segala aspek, dan juga kebebasan dalam memilih sebuah sistem pembelajaran adalah contoh bukti nyata dari melunturnya sistem pendidikan yang dihantui dengan rasa takut akan kebebasan.

Penyandaran atau bisa diartikan sebagai belajar untuk memahami kontradiksi sosial, politik, ekonomi, dan juga tindakan untuk mengambil langkah untuk melawan penindas. Usaha ini guna untuk mengungkapkan apa itu kebebasan. Selalu berpikir kritis, realistis, dan juga selalu waspada sangat diharapkan ketika seseorang ingin berjuang dari penindasan.

Selain sistem pendidikan dengan adanya perasaan takut akan kebebasan, sistem pembelajaran dengan metode bank system yang mana sistem ini bisa dikatakan sebagai sebuah diskriminasi atau penindasan karena di dalam sistem ini murid hanya dijadikan sebagai tempat untuk meletakkan suatu ilmu saja. Sistem seperti ini dianggap tidak efektif karena seharusnya guru dan juga murid memliki posisi serta porsi yang sama atau sejajar dan juga sistem ini bisa dikatakan sebagai sistem yang salah kaprah. Pada akhirnya Freire membuat sistem yang dinamakan Problem Posing Education yang mana guru dan murid berada sejajar dalam artian mereka sama-sama menjadi subjek untuk diberikan sebuah objek.

Pandangan Freire terhadap pendidikan kaum tertindas tidak hanya berfokus pada satu masalah saja. Banyak hal yang saling berkaitan satu sama lain mulai dari pembahasan pendidikan yang memang garis besar masalahnya ada pada hal ini kemudian dipadukan dengan berbagai masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Pengalaman hidup Freire juga berperan besar sehingga Freire mampu untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik. Menjujung tinggi kaum tertindas yang memang sengaja dijadikan Freire sebagai bahasan utama dan juga berbagai masalah yang berhubungan dengan kebebasan sehingga masalah-masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik oleh Paulo Freire.

Referensi

Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta : Pustaka LP3ES, 2008.