kumparan
22 Mar 2019 8:00 WIB

Asian Agri: Sawit Paling Produktif dan Efisien dalam Penggunaan Lahan

Ilustrasi Kelapa Sawit Foto: Pixabay
Uni Eropa sangat gencar menyuarakan kampanye negatif kelapa sawit. Puncaknya terjadi pada bulan Maret 2019 ini dimana Komisi Eropa memasukkan kelapa sawit ke dalam komoditas berisiko tinggi dalam Delegated Act. Kelapa sawit dianggap sebagai penyebab deforestasi.
ADVERTISEMENT
Anggapan ini dinilai dari banyaknya lahan hutan yang gundul dan diganti dengan tanaman kelapa sawit. Untuk itu, Komisi Eropa melarang penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar secara bertahap hingga tahun 2030 mendatang.
Keputusan Komisi Eropa jelas mengusik Indonesia dan Malaysia yang merupakan dua negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2018, Indonesia mampu memproduksi produk turunan kelapa sawit yaitu CPO hingga 40 juta ton. Sementara Malaysia menjadi negara dengan produksi terbesar kedua di dunia yaitu sekitar 19,5 juta ton.
Pasar Uni Eropa pun tidak dianggap rendah-rendah amat oleh Indonesia. Buktinya ekspor kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa (UE) tahun 2018 sebesar 4,78 juta ton.
Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut sepanjang tahun 2018 lalu, ekspor minyak sawit Indonesia secara keseluruhan (CPO dan produk turunannya, biodiesel dan oleochemical) membukukan kenaikan sebesar 8 persen atau dari 32,18 juta ton pada 2017 meningkat menjadi 34,71 juta ton di 2018. Peningkatan yang paling signifikan secara persentase dicatatkan oleh biodiesel yaitu sebesar 851 persen atau dari 164 ribu ton pada 2017 meroket menjadi 1,56 juta ton di 2018.
ADVERTISEMENT
Sayangnya peningkatan jumlah ekspor berbanding terbalik dengan harganya yang turun tajam. Harga rata-rata CPO tahun 2018 tercatat USD 595,5 per metrik ton atau menurun 17 persen dibandingkan dengan harga rata-rata tahun 2017 yaitu USD 714,3 per metrik ton.
Buruh memanen kelapa sawit di Desa Sukasirna, Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Rendahnya harga minyak sawit global ikut menggerus nilai devisa yang dihasilkan meskipun secara volume ekspor meningkat. Nilai sumbangan devisa minyak sawit Indonesia pada tahun 2018 diperkirakan mencapai USD 20,54 miliar atau menurun 11 persen dibandingkan dengan nilai devisa tahun 2017 yang mencapai 22,97 miliar dolar AS. Kelapa sawit sangat penting bagi perekonomian Indonesia.
Direktur Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard Riedo, pun angkat bicara soal tersandungnya komoditas kelapa sawit di Uni Eropa. Dia memandang anggapan Uni Eropa yang bilang bahwa kelapa sawit adalah penyebab deforestasi perlu dikaji ulang. Sebab, kelapa sawit justru lebih efisien dalam hal penggunaan lahan dibandingkan komoditas lain.
ADVERTISEMENT
“Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang paling produktif dan efisien dalam hal penggunaan lahan,” tegas Bernard kepada kumparan, Jumat (22/3).
Berdasarkan data Oil World 2018, kelapa sawit adalah bagian dari produsen minyak nabati global seperti bunga matahari, kedelai, biji kapas, dan biji rapa. Total luas secara keseluruhan produsen minyak nabati global adalah 290 hektare (ha) dengan angka produksi minyak nabati sebesar 221 juta ton. Dibandingkan tanaman lainnya, kelapa sawit menjadi tumbuhan yang paling efisien dalam penggunaan lahan.
Kelapa sawit hanya menggunakan lahan sebesar 7 persen. Sementara kedelai 43 persen, biji kapas 12 persen, biji rapa 11 persen, bunga matahari 9 persen dan sisanya tumbuhan minyak nabati lainnya 20 persen.
ADVERTISEMENT
Masih pada data Oil World 2018, kelapa sawit berkontribusi memproduksi 38 persen dari total produksi 221 juta ton. Sementara komoditi lainnya seperti kedelai 24 persen, biji rapa 11 persen, bunga matahari 9 persen biji kapas 2 persen, sementara 20 persen lainnya tumbuhan minyak nabati lain.
Selain itu, berdasarkan data dari Stanford University dan The National Team For Acceleration of Poverty Reduction (TNP2K) tahun 2016 kontribusi kelapa sawit terhadap produk domestik bruto sebesar 3,5 persen. Sementara itu hingga tahun 2018, ada sekitar 19,5 juta pekerja di sektor kelapa sawit.
Corporate Affair Director Asian Agri, Mohamad Fadhil Hasan menambahkan saat ini pemerintah telah gencar melakukan program pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ataupun Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Upaya ini untuk mendorong pengelolaan sawit yang semakin baik dan berdaya saing global.
ADVERTISEMENT
“Saat ini semua petani Asian Agri bersertifikasi RSPO,” timpalnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan