Banggar DPR RI Akhirnya Ketok Postur RAPBN 2019

30 Oktober 2018 15:10 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Rapat Banggar DPR RI dengan Pemerintah, Selasa (30/10/2018). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rapat Banggar DPR RI dengan Pemerintah, Selasa (30/10/2018). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
ADVERTISEMENT
Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI akhirnya menyetujui postur dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019. Adapun pengesahannya akan dilakukan pada Rapat Paripurna DPR RI besok pagi.
ADVERTISEMENT
Pertumbuhan ekonomi di tahun depan ditargetkan sebesar 5,3 persen, begitu juga dengan inflasi yang sebesar 3,5 persen, tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) tiga bulan sebesar 5,3 persen, harga minyak mentah Indonesia sebesar USD 70 per barel, dan lifting gas 1,25 juta barel setara minyak per hari.
Sementara nilai tukar rupiah mengalami perubahan menjadi Rp 15.000 per dolar AS, dari sebelumnya dalam Nota Keuangan RAPBN 2019 sebesar Rp 14.400 per dolar AS.
Lifting minyak juga mengalami perubahan menjadi 775.000 barel per hari dari sebelumnya 750.000 ribu barel per hari.
"Dengan ini postur APBN 2019 bisa kami sepakati ya. Tok!," ujar Ketua Banggar Aziz Syamsuddin di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (30/10).
ADVERTISEMENT
Dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS, pendapatan negara sebesar Rp 2.165,1 triliun, meningkat dari sebelumnya dalam Nota Keuangan RAPBN 2019 sebesar Rp 2.142,5 triliun. Secara rinci, penerimaan perpajakan ditargetkan sebesar Rp 1.786,4 triliun, lebih tinggi dari sebelumnya Rp 1.781 triliun dengan tax ratio sebesar 12,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ditargetkan Rp 378,3 triliun dari sebelumnya Rp 361,1 triliun.
Rapat Banggar DPR RI dengan Pemerintah, Selasa (30/10/2018). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rapat Banggar DPR RI dengan Pemerintah, Selasa (30/10/2018). (Foto: Nicha Muslimawati/kumparan)
Sementara belanja negara ditargetkan sebesar Rp 2.461,1 triliun, naik Rp 21,4 triliun dari sebelumnya dalam Nota Keuangan sebesar Rp 2.439,7 triliun.
Secara rinci, belanja pemerintah pusat menjadi Rp 1.634,3 triliun, yang terdiri dari belanja kementerian dan lembaga (K/L) Rp 855,5 triliun dan belanja non-K/L menjadi Rp 778,9 triliun.
ADVERTISEMENT
Belanja non-K/L tersebut termasuk ke pembayaran bunga utang yang sebesar Rp 275,9 triliun, subsidi energi naik Rp 4,1 triliun menjadi Rp 159,9 triliun (subsidi BBM dan elpiji Rp 100,7 triliun dan subsidi listrik Rp 59,3 triliun), serta belanja lainnya Rp 114 triliun.
Adapun belanja lain-lain tersebut mencakup antara lain untuk cadangan penanggulangan bencana Provinsi NTB dan Sulteng sebesar Rp 10 triliun dan cadangan pooling fund bencana sebesar Rp 1 triliun.
Transfer daerah ke dana desa meningkat menjadi Rp 826,8 triliun. Terdiri dari transfer ke daerah yang naik menjadi Rp 756,8 triliun dan dana desa yang turun menjadi Rp 70 triliun dari sebelummya Rp 73 triliun.
Dengan demikian, defisit keseimbangan primer mengecil menjadi Rp 20,1 triliun dari sebelumnya Rp 21,7 triliun. Sementara defisit anggaran sebesar 1,84 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
ADVERTISEMENT
Untuk pembiayaan anggaran tahun depan sebesar Rp 296 triliun, berkurang Rp 1,2 triliun dari Nota Keuangan sebesar Rp 297,2 triliun. Secara rinci, pembiayaan utang sebesar Rp 359,3 triliun dan pembiayaan investasi sebesar Rp 75,9 triliun. Pembiayaan investasi tersebut antara lain untuk dana pengembangan pendidikan nasional sebesar Rp 20 triliun dan dana abadi penelitian sebesar Rp 1 triliun.