kumparan
6 Jun 2018 16:49 WIB

Bank Mandiri Berminat Buka Cabang di Filipina

Bank Mandiri. (Foto: REUTERS/Beawiharta)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tertarik untuk membuka cabang di Filipina. Hal ini menyusul disahkannya protokol keenam ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) sehingga perbankan nasional semakin mudah untuk berekspansi di ASEAN.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, sebenarnya ada dua negara yang telah dilirik bank berpelat merah ini, yaitu Malaysia dan Filipina. Namun menurutnya pasar di Malaysia terlalu ramai dan sulit bagi Indonesia masuk ke sana.
"Kami tertarik ke ASEAN, Malaysia dan Filipina. Kami jajakan untuk masuk. Tapi prospek kami Filipina ini lebih menarik, kalau Malaysia market-nya padat," ujar pria yang akrab disapa Tiko di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (6/6).
Menurut dia, jika Mandiri masuk ke Malaysia, maka diprediksi hanya WNI di sana yang mendominasi pasar. Sementara di Filipina, pasar ritel untuk Mandiri masih terbuka lebar.
"Kalau di Malaysia, market lokal sana agak berat. Kalau Filipina market ritelnya belum sebesar di Malaysia, ini jadi peluang kami. Kalau kami ke sana kan sudah ada ABIF jadi lebih mudah," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo sebelumnya mengatakan ada sejumlah kesulitan perbankan di Indonesia untuk masuk ke Malaysia. Di Malaysia, penyertaan modal pembukaan bank yang cukup tinggi dan pembatasan regulasi menjadi hambatan utama. Negara tersebut mewajibkan penempatan modal yang disetor atau paid up capital senilai Rp 985 miliar.
Selain itu, ada peraturan yang menghambat dalam hal pembukaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Bahkan, Negeri Jiran tersebut memberikan batasan tertentu untuk lokasi-lokasi penempatan mesin ATM di beberapa wilayah.
"Negara tetangga itu sudah masuk ke Indonesia, cabang sudah ratusan, ATM ribuan, dan itu kenyataan. Indonesia ingin mendorong agar bank di Indonesia bisa ekspansi. Kami mau masuk ke Singapura dan Malaysia, pintu akses ditutup rapat dan tidak ada national treatment,” kata Agus beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan