kumparan
7 Jan 2019 18:44 WIB

Bank Mandiri Bidik Segmen Commercial Banking karena Potensinya Besar

Press Conference Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bank Mandiri, Senin (7/1). (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) resmi memiliki direksi baru. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), para pemegang saham memutuskan untuk mengangkat Riduan Ahmad sebagai Direktur Commercial Banking.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoadmojo mengatakan dengan pengangkatan direktur komersil banking ini bertujuan agar segmen tersebut bisa tumbuh lebih luas. Selain itu menurut Tiko, sapaan akrab Kartika, keberadaan segmen komersial banking ini menjadi penting sebab segmen tersebut punya potensi yang cukup besar.
“Ada restrukturisasi 20 persen kredit Mandiri ada di segmen ini. Diharapkan bisnis komersial banking bisa tumbuh lebih luas lagi. Ini segemen small medium enterprise dan corporate," ungkap Tiko di Plaza Bank Mandiri, Senin (7/1).
Tiko menjelaskan bahwa segmen commercial banking merupakan segmen baru di Bank Mandiri. Sebelumnya, Bank Mandiri hanya mempunyai segmen corporate banking di bawah komando Royke Tumilaar. Seiring berjalannya waktu segmen tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup besar.
Press Conference Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Bank Mandiri, Senin (7/1). (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
Dari total kredit sebesar Rp 130 triliun, Rp 300 triliun di antaranya dipegang oleh korporasi raksasa. Jika digabungkan dengan korporasi yang lebih medium, nilainya mencapai Rp 400 triliun.
ADVERTISEMENT
“Artinya 60 persen portofolio kita itu ada di bawah manajemen Pak Royke Tumilaar. Oleh karena itu, kita mesti membelah segmen corporate ini menjadi segmen corporate dan segmen commercial,” ujar Tiko.
Nantinya segmen commercial banking bakal menangani beberapa perusahaan menengah yang ukurannya cukup besar. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki nilai kredit hingga miliaran rupiah. Hanya saja, perusahaan yang masuk dalam commercial banking bukan perusahaan BUMN ataupun perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Jadi masih perusahaan regional based dan biasanya belum ada penerbitan capital market ataupun belum listing di bursa. Tapi potensi tumbuhnya besar. Kita ingin mendorong segmen ini untuk mulai tumbuh tapi mungkin tidak akan seagresif pertumbuhan kita di retail,” tutupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan