kumparan
2 Agu 2018 10:24 WIB

Banyak Sumur Tua, Produksi Minyak RI Terus Turun dalam 10 Tahun

Aktivitas pengeboran migas. (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)
Produksi minyak mentah dan kondensat Indonesia terus mengalami penurunan. Dalam data laporan kinerja SKK Migas selama semester I 2018 yang diterima kumparan tadi malam, produksi minyak mentah dan kondensat Indonesia terus turun dalam 10 tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
Tercatat, pada 2008 lalu, Indonesia mampu produksi di angka 977 ribu barel per hari (bph). Setahun berikutnya atau pada 2009, turun 2,9 persen menjadi 949 ribu bph. Lalu, pada 2010 turun lagi 0,4 persen menjadi 945 ribu bph.
Penurun cukup tajam terjadi pada 2011. Produksinya hanya 902 ribu bph atau anjlok 4,5 persen. Pada 2012 atau setahun kemudian, turun lagi 4,7 persen menjadi 860 ribu bph. Angka ini terus turun pada 2013 sebesar 4,1 persen menjadi 824 ribu bph.
Pada 2014, produksi minyak mentah dan kondensat terus turun 4,3 persen menjadi 789 ribu bph. Setahun kemudian atau pada 2015 turun tipis 0,4 persen menjadi 786 ribu bph.
ADVERTISEMENT
Barulah pada 2016 terjadi kenaikan, produksinya menjadi 831 ribu bph. Tapi setahun kemudian langsung turun lagi 3,6 persen menjadi 801 ribu bph. Terakhir, hingga 30 Juni 2018, tercatat produksi minyak mentah Indonesia hanya mampu di angka 779 ribu bph atau turun 2,8 persen.
Pengeboran di sumur JAS -D milik Pertamina (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Wakil Kepala SKK Migas Sukandar mengatakan, tren penurunan produksi minyak mentah dan kondensat memang terus terjadi. Ini sudah menjadi siklus alam di mana sumur-sumur tua pasti mengalami decline atau penurunan produksi karena sudah puluhan tahun dikuras.
“Produksinya minyaknya memang turun terus. Di dome, reservoar-nya tebal. Lalu setelah produksi, ada airnya. Tapi pernah ada kenaikan produksi dari Blok Cepu, Exxon,” kata dia saat ditemui di Wisma Antara, Jakarta (1/8) kemarin sore.
ADVERTISEMENT
Dia bilang, meski realisasi produksi masih di bawah target, tapi SKK Migas tengah mengembangkan dan mencari lapangan baru untuk bisa dieksplorasi dan eksploitasi. Dia bilang, produksinya baru dirasakan tiga tahun lagi untuk dapat minyak pertama yang muncul.
“Realisasi produksi memang masih under. Tapi kami enggak kecil hati. Ini kita lagi develop lapangan baru. Paling cepat itu tiga tahun lagi baru muncul. Ini butuh waktu,” tuturnya.
Aktivitas pengeboran migas. (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)
Sebelumnya, realisasi lifting minyak bumi semester I 2018 sebesar 771 ribu BOPD atau baru 96 persen dari target APBN 2018 sebesar 800 BOPD. Jumlah itu berdasarkan 12 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama yang ada di dalam negeri.
Dari 12 profil lifting KKKS, produksi lifting yang turun ada 7 KKKS, di mana 4 KKKS berasal dari anak usaha PT Pertamina (Persero). Pertama, lifting PT Pertamina EP hanya 70.031 barel per hari (bph) atau hanya 81,6 persen dari target APBN sebesar 85.869 bph.
ADVERTISEMENT
Lalu, lifting PT Pertamina Hulu Mahakam hanya 46.376 bph atau 96,1 persen dari target APBN sebesar 48.271 bph. Lifting Pertamina Hulu Energi ONWJ LTD hanya 30.489 bph atau hanya 92,4 persen dari target APBN sebesar 33.000 bph. Terakhir, lifting BOB PT Bumi Siak Pusako-Pertamina Hulu hanya 94.885 bph atau 94,9 persen dari target APBN sebesar 10.970 bph.
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan, kinerja lifting Pertamina tidak maksimal karena sumur-sumur yang dieksploitasi merupakan sumur tua yang sudah pasti produksinya akan turun. Bahkan ada sumur yang dikelola Pertamina sejak zaman Belanda yaitu Lapangan Jatibarang di Indramayu, Jawa Barat.
“Masalahnya beda-beda sumur tua dari zaman Belanda dan tersebar di hampir semua wilayah Indonesia tapi kontrolnya tidak mudah. Selain itu, ini masalah data tidak lengkap karena banyak lapangan tua. Kalau data tidak lengkap pasti penangannya enggak maksimal,” kata Amien di Gedung SKK Migas.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan