Pencarian populer

BEI Akan Interogasi Garuda Soal Laporan Keuangan yang Ditolak Kubu CT

Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memanggil Direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) beserta auditornya untuk mengklarifikasi laporan keuangan tahun 2018 yang ditolak oleh dua komisarisnya, yakni Chairal Tanjung dan Doni Oskaria.

Kedua komisaris itu merupakan perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd yang menguasai 28,08 persen saham GIAA. Trans Airways adalah perusahaan milik pengusaha Chairul Tanjung‎ (CT).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebut pemanggilan itu dilakukan pada Selasa (30/4) pukul 08.30 WIB. Berdasar konfirmasi dari manajemen Garuda, direksi emiten berkode GIAA itu bersedia hadir.

"Iya confirm, yang datang juga dari auditornya. Dari direksi mereka akan hadir, jadi besok ketemu jam 08.30 WIB," ujarnya saat ditemui di Gedung Ditjen Pajak, Jakarta, Senin (29/4).

Dia menjelaskan, pertemuan dengan manajemen Garuda itu akan membahas ‎mengenai perjanjian piutang yang sudah diakui pendapatan. Hal tersebut yang menyebabkan dua komisaris menolak laporan keuangan Garuda.

"Kita lihat kontrak dan kita harapkan mereka akan bawa kontrak perjanjiannya, supaya kita bisa tahu background-nya apa, nature-nya apa kemudian akan kita hubungkan bagaimana pencatatannya (dalam laporan keuangan)," papar Nyoman Yetna.

Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia. Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Dia menambahkan dalam prinsip pencatatan laporan berbasis akrual, sebenarnya piutang dicatat sebagai pendapatan tak masalah. Dengan catatan, terdapat kepastian perseroan akan mendapatkan pendapatan.

"Secara akrual boleh. Kan itu ada prinsip untuk akrual, tapi nature transaksinya yang perlu diperoleh. Besok baru kita pelajari kontrak tersebut, nature dan standarnya seperti apa," katanya.

Saat disinggung jika nanti ternyata piutang Garuda ‎tak bisa dicatatkan sebagai pendapatan seperti yang ada dalam laporan keuangan saat ini, dia masih enggan membeberkan. Nyoman Yetna enggan berspekulasi.

Sebelumnya, Komisaris Garuda Indonesia, Chairal Tanjung, mengungkapkan pihaknya menolak laporan keuangan GIAA karena Perjanjian Kerjasama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia tertanggal 31 Oktober 2018 dinilai janggal.

GIAA diketahui memang menjalin kerja sama untuk menyediakan layanan wifi gratis pada sejumlah pesawat. Dari kerja sama itu, GIAA sejatinya memang memperoleh pendapatan baru sebesar USD 239,94 juta‎ dan USD 28 juta yang didapatkan dari bagi hasil dengan Sriwijaya Air. Namun seharusnya transaksi itu tak dicantumkan laporan keuangan tahun 2018 karena uangnya belum diterima.

"Kita hanya keberatan dengan 1 transaksi," beber Chairal Tanjung di Jakarta, Rabu (24/4).

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57