• 1

Beratnya Hidup Warga Pedalaman Yahukimo: Susah Listrik dan Air Bersih

Beratnya Hidup Warga Pedalaman Yahukimo: Susah Listrik dan Air Bersih


Lapangan penerbangan, papua, Yahukimo, bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi

Warga menerima bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi dari Kementerian ESDM, Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (13/8/2018). (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Hidup di pedalaman Papua tidak mudah. Selain kendala medan, warga di Pegunungan Papua seperti di Distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo selama ini mengalami kesulitan mengakses layanan listrik dan air bersih.
Pada Sabtu (11/8) pukul 06.43 WIT, kumparan bersama rombongan Kementerian ESDM dan mahasiswa berangkat dari Sentani menuju Distrik Puldama dengan membawa 1.000 buah Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang akan dibagikan kepada masyarakat di sana. Distrik Puldama berlokasi di antara Gunung Yoko, Meldi, dan Kumdang.
Akses menuju distrik ini masih sangat minim, hanya bisa dilalui menggunakan pesawat kecil. Belum ada akses jalan yang dapat menghubungkan pusat Kabupaten Yahukimo menuju Distrik Puldama.
Untuk tiba di lokasi, pesawat harus mendarat di landasan (air strip) yang masih berbentuk tanah. Air strip ini hanya satu-satunya akses yang bisa dijangkau untuk datang ke Distrik Puldama.

Lapangan penerbangan, papua, Yahukimo, bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi

Rombongan Kementerian ESDM memberikan bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi, Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (13/8/2018). (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Namun hanya sedikit pilot yang berani untuk mendarat di air strip di Puldama ini. Hal ini dikarenakan di ujung landasan merupakan jurang yang langsung mengarah ke hutan. Belum lagi landasan ini tidak memiliki rambu-rambu penerbangan. Dan panjang landasan hanya 600 meter saja.
Namun susahnya perjuangan ke Distrik Puldama terbayar oleh keindahan alam di pedalaman Papua ini karena sejauh mata memandang hanya pegunungan hijau dan langit cerah yang terlihat.
"Puldama ini, memang sejuk, anginnya besar-besar," ujar Samwel (23), seorang penduduk asli Distrik Puldama.
Kami disambut oleh puluhan masyarakat yang semenjak pagi buta sudah menunggu kedatangan kami. Senyum semringah terpancar dari wajah mereka. Pantas saja, sudah berbulan-bulan baru ada lagi pesawat berpenumpang orang asing yang mendarat di air strip, Distrik Puldama.
Di antara yang menyambut kami, beberapa di antaranya menggunakan pakaian adat, lengkap dengan panah dan ikat kepala cendrawasihnya. Menurut kepala Distrik Puldama, Peniat Mirin, hal ini memang biasa dilakukan.
"Untuk menyambut tamu," ujarnya.

Lapangan penerbangan, papua, Yahukimo, bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi

Warga berkumpul di pinggir landasan penerbangan di distrik Puldama, Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (13/8/2018). (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Di balik keindahan alamnya, distrik indah ini memiliki sederet kebutuhan yang belum terpenuhi. Pantauan kumparan, setidaknya hanya ada satu toilet yang layak digunakan. Itu pun ternyata disediakan untuk para tamu yang datang.
Selebihnya, masyarakat hanya menggunakan toilet masing-masing yang jaraknya agak jauh dari tempat tinggal mereka. Alasannya satu, agar tidak bau.
Permasalahan lainnya adalah minimnya ketersediaan air bersih. Hal ini dikarenakan lokasi distrik yang berada di dataran tinggi, sehingga sulit mendapatkan air bersih.
"Kalau kami mau ambil air itu jauh sekali, harus turun ke sungai, kalau ada air pun di sini kami tampung dari hujan. Tapi sekarang sedang (musim) kering, tidak ada air," ujar Peniat.

Lapangan penerbangan, papua, Yahukimo, bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi

Rombongan Kementerian ESDM memberikan bantuan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi, Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (13/8/2018). (Foto: Feby Dwi Sutianto/kumparan)
Masalah lainnya adalah tidak adanya listrik yang terhubung ke distrik ini. Kondisi ini memunculkan masalah lainnya, mulai dari aktivitas malam yang terganggu hingga gangguan kesehatan.
"Belum ada listrik, jadi kami kalau malam pakai bambu yang diberi api kalau mau buang air, takut ada binatang seperti ular kah (saat) kita jalan," ujar Ismail (32), salah satu warga di distrik Poldama.
Belum lagi ancaman terhadap penyakit pernapasan yang selalu mengintai warga. Pasalnya, untuk tetap terang, di seluruh honai (rumah tradisional) warga, di bagian tengahnya, ada tempat yang digunakan untuk memasak.
Warga di sini menyebutnya dengan sebutan tempat bakar batu.
"Ini menyala terus (tungku bakar batu), tidak pernah padam," ujar Ismail.

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi di Yahukimo, Papua (Foto: Muhammad Lutfan/kumparan)
Alhasil, warga yang tinggal di honai harus berdamai dengan paparan asap hasil pembakaran.
Ini memunculkan risiko lain, yakni ancaman penyakit pernapasan, ispa. Warga pun tahu akan adanya ancaman itu, namun mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Yakobus (31) semacam mantri di distrik ini paham betul akan ancaman tersebut. Yakobus merupakan warga asli yang memiliki nasib sedikit lebih beruntung dibandingkan yang lain. Ia berhasil mengenyam pendidikan tinggi, D3 Kesehatan di Universitas Cendrawasih.
"Sudah puluhan tahun seperti ini, penyakit ispa ini sering terjadi, ditambah pasokan obat kurang ke distrik, tapi masyarakat kita kasih tahu belum mau berubah, karena itu kebutuhan untuk masak dan (bikin) hangat," ujar Yakobus.

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi di Yahukimo, Papua (Foto: Muhammad Lutfan/kumparan)
Di tengah kondisi tersebut, muncul harapan baru. Program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang diluncurkan Kementerian ESDM menarget Kabupaten Yahukimo sebagai salah satu daerah yang akan diberi bantuan penerangan.
Sebanyak 1.000 LTSHE dibagikan oleh Kementerian ESDM di tanah Yahukimo. Mereka senang, karena ketakutan akan kondisi malam yang gelap sudah tidak lagi jadi masalah, aktivitas anak-anak untuk belajar pun bisa berjalan, dan yang terpenting mereka bisa berupaya untuk terhindar dari penyakit ispa.
"Nantinya kalau sudah ada penerangan, kita akan coba bujuk masyarakat untuk memindahkan dapur dari tengah rumah mereka, karena sekarang sudah terang," ucap Yakobus.

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi

Kementerian ESDM Bagikan Seribu Lampu Hemat Energi di Yahukimo, Papua (Foto: Muhammad Lutfan/kumparan)
Optimisme mulai muncul. Masyarakat bersuka cita. Mereka senang, karena semenjak Indonesia merdeka, terhitung Sabtu (11/8) mereka sudah memiliki lampu untuk penerangan.
"Program dari Kementerian ESDM ini sudah dan akan berlanjut untuk kurun waktu 2017-2019, menyalurkan 400.000 LTSHE terhadap 2.500 desa yang sebelumnya belum menikmati listrik sama sekali," ujar Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Sumberdaya Alam dan Ekonomi, Dadan Kusdiana.
"Semoga masyarakat di Distrik Puldama ini bisa menjaganya, sekarang mereka bisa menikmati cahaya saat malam," pungkasnya.
Ini merupakan salah satu langkah awal untuk menciptakan energi berkeadilan. Di saat pulau lain seperti Jawa sudah mendapatkan energi yang cukup, kini giliran saudara kita di Papua yang mulai menikmatinya.

BisnisEkonomiESDMPapuaLampu Tenaga Surya

presentation
500

Baca Lainnya