kumparan
21 Apr 2019 10:31 WIB

Bos Lion Air vs Boeing

Direktur Utama Lion Air, Rusdi Kirana. Foto: AFP/ANDREAS SOLARO
Di tengah penyelidikan Federasi Penerbangan Sipil Amerika Berita atau Federal Aviation Administration (FAA) terhadap Boeing 737 Max 8, Bos Lion Air Rusdi Kirana buka suara tentang kecelakaan pesawat Lion Air jenis ini di Karawang dan Ethiopian Airlines di Addis Ababa.
ADVERTISEMENT
Rusdi merasa pada dua kejadian naas itu, sikap Boeing berbeda. Dia pun kecewa pada produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat (AS) itu. Padahal Rusdi telah membeli ratusan pesawat dari Boeing.
Seperti apa kekecewaan Rusdi terhadap Boeing?
Rusdi Merasa Boeing Hanya Menjadikannya Celengan
Untuk pertama kalinya, Bos Lion Air ini menyampaikan keluhan soal Boeing, yang merupakan mitra utama dalam pengadaan pesawat di Lion Air. Ini merupakan pernyataan pers pertama Rusdi, setelah kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan Reuters, Senin (15/4), Rusdi menyebut Boeing telah memperlakukannya sebagai 'celengan'. Lion Air telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membayar pesanan pesawat ke Boeing, dan menjadikannya salah satu maskapai berbiaya murah terbesar di Asia.
ADVERTISEMENT
Mengutip Reuters, Lion Air telah menerima 200 unit pesawat pesanannya dari Boeing, sambil menunggu 187 unit sisa pesanan lainnya. Tapi pasca-kecelakaan Boeing 737 Max 8, Lion mengancam akan membatalkan semua pesawat pesanannya itu.
"Mereka memandang rendah maskapai saya dan negara saya, meskipun hubungan selalu ditangani dengan cara yang tepat. Mereka memperlakukan kami seperti 'negara dunia ketiga'," kata Rusdi kepada Reuters.
"Mereka juga memandang rendah saya. Mereka memandang saya sebagai celengan mereka," imbuhnya.
Beda Sikap Boeing pada Lion Air dan Ethiopian Airlines
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia ini menilai industri pesawat The Boeing Company tidak konsisten dalam menyikapi jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 milik 2 maskapai yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Pada 10 Maret 2019 lalu, pesawat jenis itu milik Ethiopian Airlines jatuh tak lama setelah lepas landas. Ini merupakan kecelakaan Boeing 737 Max 8 yang kedua dalam lima bulan, sebelumnya jenis pesawat yang sama milik Lion Air jatuh di Teluk Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018.
Menurut Rusdi Kirana, Boeing telah menunjukkan inkonsistensi dalam menyikapi dua kecelakaan itu. "(Mereka) menyalahkan yang pertama (Lion) dan meminta maaf setelah (pesawat jatuh) yang kedua," katanya seperti dikutip dari Reuters.
Rusdi yang juga merupakan politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai, pernyataan Boeing yang cenderung menyalahkan pilot, cenderung bertentangan dengan permintaan maaf mereka baru-baru ini.
“Sikap yang berbeda dengan kritik tergesa-gesa sebelumnya terhadap pilot Lion Air,” kata Rusdi.
ADVERTISEMENT
Boeing Minta Maaf
Menanggapi curhat Rusdi Kirana tersebut, Kepala Eksekutif Boeing Dennis Muilenburg mengatakan penyesalan atas kecelakaan yang menimpa Lion Air penerbangan JT 610 pada 29 Oktober 2018 lalu.
“Kami mohon maaf atas nyawa yang hilang dan sangat menyesalkan dampak yang menghancurkan para keluarga, teman dan kolega penumpang serta kru pesawat," katanya kepada Reuters.
"Rusdi Kirana telah menjadi pemimpin dan pelopor dalam penerbangan Asia," ujar Muilenburg, sambil menambahkan bahwa Rusdi dan Lion Air tetap menjadi mitra berharga bagi Boeing.
Boeing sendiri telah memulai kampanye, untuk memulihkan kepercayaan pengguna pada Boeing 737 Max, yang merupakan produk terlaris mereka. Mereka berjanji menghilangkan risiko atas gangguan perangkat, yang dicurigai memicu kecelakaan pesawat, akibat membaca data yang salah.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan