kumparan
10 Jan 2019 18:04 WIB

Bulog Targetkan Bisa Serap 1,8 Juta Ton Beras Petani Hingga Juli 2019

Panen Padi Inpari (Foto: Kementan)
Perum Bulog memproyeksikan panen raya akan terjadi pada bulan Maret sampai Juli 2019. Saat panen raya tiba, Bulog tidak akan menyia-nyiakan dengan menyerap sebanyak-banyaknya beras milik petani.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso pun menargetkan bisa menyerap 1,8 juta ton beras petani hingga semester I 2018. Dengan serapan beras petani sebanyak ini, dia optimistis stok beras Bulog baik untuk operasi pasar maupun cadangan beras pemerintah (CBP) akan aman.
"Juli ini kita panen raya, target serap (beras) 1,8 juta ton. Untuk gantikan yang sekarang kita keluarkan," ungkap Buwas saat ditemui di Gudang Divre Bulog, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1).
Dia pun menghitung, stok beras Bulog saat ini sekitar 2,1 juta ton. Selama beberapa bulan ke depan, diperkirakan jumlahnya akan menyusut 600 ribu ton menjadi 1,5 juta ton. Artinya, dengan tambahan 1,8 juta ton beras petani yang diserap maka stok Bulog menjadi 3,4 juta ton.
ADVERTISEMENT
"Kalau ada tambahan 1,8 juta ton kan ada 3 juta lebih," imbuhnya.
Buruh tani merontokkan padi saat panen raya (Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Buwas menuturkan penyerapan beras petani akan dimulai pada bulan Februari depan. Saat ini pihaknya telah memetakan wilayah yang nantinya akan panen. Dalam penetapan wilayah, Buwas bilang turut berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS). Meski demikian Buwas menyatakan Bulog tidak akan menyerap 100 persen hasil panen. Hal ini melihat kondisi petani.
"Tapi bukan berarti 100 persen kita serap. Karena kan kita lihat kepentingan petani juga. Kalau mereka lebih untung jual ke pasar bebas dengan harga tinggi, ya biar saja. Yang tidak laku itu Bulog," jelasnya.
Penyerapan beras dalam negeri dianggap Buwas lebih mudah dibandingkan pengadaan beras impor.
ADVERTISEMENT
"Tapi itu masih nanti kita pertimbangkan karena akan berpengaruh pada cost. Tapi yang sudah sesuai harganya yang pera itu mungkin bisa untuk daerah Sumatera, Padang, mereka kan suka beras jenis pera," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan