kumparan
6 Des 2018 13:12 WIB

Catcha Group: Indonesia Bakal Punya 2 Startup Unicorn Baru pada 2020

com-Startup (Foto: Thinkstock)
Grup internet terkemuka di Asia Tenggara, Catcha Group, kembali menyelenggarakan konferensi teknologi se-Asia Tenggara (SEA) bertajuk Wild Digital Indonesia 2018. Dalam pembukaan konferensi tersebut, CEO & Co-Founder Catcha Group Patrick Grove, juga mengumumumkan hasil risetnya berupa 3 prediksi baru untuk sektor teknologi Indonesia.
ADVERTISEMENT
Salah satunya, Patrick optimistis Indonesia akan ada minimal 2 startup unicorn baru dari sektor fintech dan healthcare sebelum akhir tahun 2020.
“Seperti yang selalu saya bilang, kekuatan ASEAN itu tidak dapat dikalahkan. Dan Indonesia saat ini sedang mengambil alih. Ada 3 prediksi baru kami untuk Indonesia yang bakal membuktikan itu,” ungkap Patrick di The Westin Hotel, Jakarta, Kamis (6/12).
Menurutnya. ada 3 prediksi sektor teknologi Indonesia selama 24 bulan ke depan. Pertama, pendanaan di Indonesia akan melebihi pendanaan di Singapura. Hingga saat ini, para pemimpin pasar Indonesia berhasil menginvestasikan sebanyak USD 20 miliar, terdiri dari Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.
Menurut Patrick jumlah itu hampir sama dengan jumlah unicorn Singapura yang bernilai USD 22 Miliar, yaitu Grab, Lazada, Razer dan Sea. “Bahkan masih ada potensi bahwa Indonesia akan memiliki unicorn baru hingga 2019. Jadi tidak lama lagi Indonesia akan mengambil alih,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, pengguna internet di Indonesia berjumlah 133 juta, yaitu 26 kali lebih besar dari pengguna internet di Singapura yang hanya sekitar 5 juta. Jumlah ini menurut Patrick akan memberikan potensi besar bagi pertumbuhan bisnis digital.
Lebih lanjut, Singapura telah mengalami penurunan dalam pendanaan seri C sementara pendanaan Seri C Indonesia justru sedang dalam tren naik.
Prediksi kedua, Patrick mengatakan akan ada minimal 2 unicorn baru dari sektor fintech dan healthcare sebelum akhir tahun 2020. Menurutnya investor lokal dan asing bakal memindahkan uang mereka dari e-commerce ke kedua sektor itu, bersamaan dengan bertambahnya dukungan pemerintah dan kegiatan masyarakat pada sektor ini.
Wild Digital Indonesia 2018 Conference (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
Patrik menjelaskan terdapat 64 persen warga Indonesia yang berumur 25 tahun atau lebih tidak memiliki rekening bank. Ini merupakan peluang kuat untuk startup fintech berkembang di Indonedia.
ADVERTISEMENT
Sedangkan, untuk start up sektor kesehatan, Patrick mengatakan pangsa pasar Indonesia terbuka lebar. Sebab kini hanya terdapat 160 ribu dokter yang harus melayani 250 juta penduduk. Tentunya angka tersebut kurang sepadan sehingga Indonesia membutuhkan solusi, salah satunya kehadiran healthcare startup.
Prediksi ketiga, Indonesia akan memiliki pangsa terbesar 'nexicorn' di dunia. “Nexicorn atau the next unicorn merupakan startup bernilai lebih dari USD 100 juta,” ujarnya.
Menurut Patrick prediksi tersebut tidak berlebihan. Sebab, Indonesia memiliki penetrasi internet terbesar dan tercepat Asia Tenggara. Bahkan ekonomi internet Indonesia diprediksikan akan terus berkembang mencapai USD 100 Miliar pada 2025.
Selain itu, menurutnya, Indonesia mempunyai pendanaan yang jauh lebih banyak dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. “Ini menunjukan berkembangnya minat investor untuk masuk ke Indonesia,” tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan