kumparan
25 Okt 2018 15:00 WIB

Debenhams Catat Rekor Kerugian, 50 Gerai Akan Ditutup

Hari terakhir Debenhams Senayan City dibuka (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Department store terkemuka asal Inggris, Debenhams, mencatatkan rekor kerugian terbesar secara tahunan, sehingga mereka terpaksa akan menutup 50 gerai untuk menekan kerugian. Akibat rencana tersebut, ada sekitar 4 ribu pekerjaan yang terancam dipangkas.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari BBC, sepanjang Januari-September 2018 ini, Debenhams merugi hingga 491,5 juta pound atau dengan kurs saat ini setara Rp 9,7 triliun. Angka itu jauh berkebalikan dari periode yang sama tahun lalu, ketika perusahaan masih meraup laba 59 juta pound atau Rp 1,2 triliun.
Bos Debenhams, Sergio Bucher mengatakan, perusahaan itu terpaksa harus mengambil keputusan sulit, yakni menutup toko-toko mereka yang kinerja keuangannya memburuk. Saat ini, Debenhams memiliki 166 gerai di berbagai negara. Yang terbanyak ada di Inggris, Irlandia, dan Denmark.
Menurutnya, ada 50 gerai yang akan ditutup. Meningkat dari proyeksi semula yang hanya 10 gerai. Namun mereka tak merinci gerai mana saja yang akan ditutup. Bucher menambahkan, 40 toko tambahan yang akan ditutup sebenarnya masih memberikan keuntungan. Tapi dia tidak yakin tren tersebut masih akan berlanjut dalam tahun-tahun ke depan.
ADVERTISEMENT
Perusahaan ritel tua yang telah didirikan sejak abad ke-18 ini, pernah punya tiga gerai di Indonesia, yang dikelola mitra Debenhams yakni PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI). Ketiga gerai itu sebelumnya berada di Senayan City, Kemang Village, dan Supermal Karawaci. Tapi pada 2017 lalu, MAPI menutup semua gerai Debenhams itu.
Debenhams (Foto: REUTERS/Ki Price)
Dalam hitungan BBC, penutupan 50 toko Debenhams akan membuat hilangnya 4 ribu pekerjaan. Meski begitu, perusahaan mengaku akan menekan sekecil mungkin jumlah pekerja yang di-PHK.
Untuk mengatasi tren kelesuan usaha ritel Debenhams, sebelumnya mereka telah melakukan beberapa inovasi. Seperti mendesain ulang toko, serta mengombinasikan pengalaman belanja dengan fasilitas hiburan (leisure) seperti salon dan arena bermain anak-anak.
Ternyata strategi itu belum bisa mendongkrak keuntungan perusahaan. Dalam hitungan Bucher, Debenhams bisa punya kinerja keuangan yang bagus jika hanya memiliki 100 gerai saja.
Hari terakhir Debenhams Senayan City (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Ekonom Ritel Richard Lim menilai, industri ritel seperti Debenhams saat ini memang paling tertekan oleh biaya yang tinggi.
ADVERTISEMENT
"Bisnis department store sekarang sangat mahal untuk dijalankan," katanya. "Ada berbagai komponen biaya mahal. Mulai dari ruang sewa, harga space yang tidak fleksibel dan biaya operasi yang tinggi di tengah pesatnya pertumbuhan belanja online.”
Faktor-faktor ini menurut Lim, mengikis profitabilitas mereka dan sehingga menuntut perubahan model bisnis jika mereka ingin bertahan hidup.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan