kumparan
17 Sep 2019 11:23 WIB

Di Tengah Kenaikan Produksi, Harga Minyak Sawit Mulai Menggeliat

Pekerja membongkar buah kelapa sawit di unit pemrosesan minyak kelapa sawit milik negara. Foto: REUTERS / Tarmizy Harva
Harga minyak sawit mulai menggeliat naik, di tengah tren penurunan harga sejak dua tahun silam. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan, harga rata-rata CPO CIF Rotterdam bulan Agustus mencapai USD 541 per metrik ton.
ADVERTISEMENT
Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono, menyatakan harga itu merupakan rata-rata bulanan tertinggi sejak Maret 2019. “Namun, harga minyak sawit masih menunjukkan tren yang menurun sejak Januari 2017. Tren menurun yang sudah cukup panjang cukup merisaukan produsen,” katanya melalui pernyataan resmi yang diterima kumparan, Selasa (17/9).
Mukti menjelaskan penyebab tren penurunan harga itu. Yakni perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China menyebabkan stok kedelai di AS meningkat. Sehingga petani dan pemerintah AS berusaha mencari pasar pengganti China. Sementara produsen minyak sawit, karena sifat alami tanaman tahunan, tidak mampu menahan produksinya dan harus menjual ke pasar.
Untuk proyeksi harga minyak sawit ke depan, menurutnya akan ditentukan tiga hal. Pertama, terobosan yang akan diambil pemerintah AS untuk mengurangi stok kedelai; Kedua, keberhasilan China untuk menangani masalah flu babi Afrika dan melonjaknya harga daging babi; Ketiga, implementasi B20 dan B30 di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Produksi dan Ekspor Naik
Sementara itu produksi minyak sawit Indonesia di bulan Juli naik 8 persen dibandingkan produksi bulan Juni. Hal ini, jelas Mukti, terjadi karena pada bulan Juni terjadi kekurangan hari panen sehubungan libur Labaran. Sehingga TBS-nya terpanen di bulan Juli.
Aktivitas Petani Plasma Kelapa Sawit Asian Agri di Provinsi Riau, Jumat (22/3). Foto: Abdul Latif/kumparan
Volume ekspor produk minyak sawit bulan Juli naik 16 persen dibandingkan ekspor Juni. Kenaikan ekspor dijumpai di biodiesel (+93 persen), CPO (+52 persen), lauric oil (+23 persen), refined palm oil (+6 persen) sedangkan ekspor oleokimia turun (-18 persen).
“Penyakit flu babi Afrika, menurunkan crushing kedelai di China yang berdampak pada peningkatan impor minyak sawit dari Indonesia hampir 50 persen dari bulan Juni,” jelas Mukti.
Peningkatan ekspor yang besar juga terjadi ke Bangladesh (+264 persen), India (+77 persen) meskipun ada diskriminasi tarif, Afrika (+32 persen) dan negara lain (+41 persen), EU (+17 persen) sementara ekspor ke Amerika Serikat turun (-54 persen) dan ke Timur tengah juga turun (-43 persen).
ADVERTISEMENT
Secara total, ekspor bulan Juli naik 16 person dari ekspor bulan Juni. Ekspor biodiesel mencapai 187 ribu ton dan sekitar 140 ribu ton (75 persen) diekspor ke China sementara eleokimia mengalami penurunan 8 persen dari ekspor bulan Juni.
Sedangkan konsumsi lokal minyak sawit untuk keperluan pangan pada bulan Juli, justru menurun 6 persen. Hal ini disebabkan pada bulan Mei industri menyiapkan stok produk untuk lebaran yang jatuh pada awal Juni sehingga pemakaian minyak sawit untuk pangan pada bulan Mei tinggi (955 ribu ton).
Pada bulan Juli, industri pangan cenderung mengeluarkan stok kelebihan produksi, yang sebelumnya dipersiapkan untuk lebaran. Konsumsi minyak sawit untuk oleokimia meningkat 6 persen dibandingkan dengan bulan Juni tetapi relatif sama dengan bulan Mei.
ADVERTISEMENT
Dengan situasi produksi dan konsumsi tersebut, stok minyak sawit Indonesia pada bulan Juli menjadi 3,5 juta ton atau sekitar 2,7 kali konsumsi lokal bulanan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan