kumparan
30 Nov 2018 17:52 WIB

Diancam Luhut Setop Impor Airbus, Prancis Batal Boikot Sawit Indonesia

Airbus A380 (Foto: Pixabay)
Sawit Indonesia mengalami tekanan yang besar di pasar Eropa sejak tahun lalu. Mereka menyebarkan kampanye hitam agar masyarakat Eropa tidak menggunakan minyak kelapa sawit atau crude oil palm (CPO) asal Indonesia.
ADVERTISEMENT
Salah satu negara di Uni Eropa yang mengancam akan memboikot CPO Indonesia adalah Prancis. Tapi, negara Menara Eiffel ini justru membatalkan aksi boikot CPO Indonesia. Salah satu pertimbangan Prancis adalah produk sawit asal Indonesia sudah tersertifikasi.
Namun ada lagi penyebab kenapa Prancis tak jadi memboikot CPO Indonesia. Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, pemerintah Indonesia telah bertemu dengan Menteri Muda pada Kementerian Eropa dan Luar Negeri Prancis, Jean-Baptiste Lemoyne, di Jakarta pada Kamis (29/11) kemarin. Dalam pertemuannya itu, pemerintah Indonesia secara terang-terangan mengancam balik Prancis.
Ancaman itu adalah dengan menghentikan pembelian pesawat buatan Airbus. Ancaman ini tentunya bikin pangsa pasar Airbus di Indonesia hilang.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan saat penutupan Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua Bali, Minggu (14/10/2018). (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
"Kemarin saya bicara sama Menlu Prancis. Kami sampaikan, kalian tahu enggak, kami butuh 250 pesawat terbang selama 20 tahun ke depan. Nah itu sama dengan USD 30-40 miliar. Kami butuhkan Airbus tapi kita alihkan Airbus ke Boeing," tegas Luhut saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (30/11).
ADVERTISEMENT
Kepada Prancis, Luhut menjelaskan jika keberadaan sawit sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Sebab, banyak warga Indonesia yang bertumpu pada bisnis ini, bahkan tingkat kemiskinan salah satunya bisa tertolong dari kontribusi sawit. Sawit menjadi salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia ke luar negeri.
Meski begitu, dalam negoisasinya dengan Prancis, dia tidak ingin pemerintah mengemis-ngemis kepada mereka agar tidak diboikot. Indonesia, sebut dia, harus punya daya tawar yang bagus sebab Indonesia punya kekuatan yang besar.
Tapi Luhut tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang negoisasi yang dilakukan pemerintah dan Prancis. Yang penting, katanya, Prancis telah membatalkan keinginannya untuk boikot CPO Indonesia.
"Kita bukan minta-minta sama uni Eropa. Kita harus fair. Kita enggak mau ngemis-ngemis, kita punya bargaining power. Kita punya pilihan-pilihan lain bukannya kau (Prancis) saja. Tapi kami sangat bersahabat. Saya selalu kalau ngomong agak kasar-kasar gitu saja biar enggak dikira minta-minta," tegas dia.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan