Pencarian populer

Dirut BRI Kunjungi kumparan: Berbagi Cerita Ditemani Secangkir Kopi

Dirut BRI Suprajarto. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kantor kumparan di Jalan Jatimurni, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kedatangan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) atau Bank BRI, Suprajarto, pada Rabu (27/3) menjelang sore.

Suprajarto datang didampingi Corporate Secretary, Bambang Tri Baroto, serta jajaran Divisi Sekretariat Kantor Pusat (SKP). Dia diterima langsung oleh CEO kumparan, Hugo Diba dan Chief of Story Teller Officer kumparan, Yusuf Arifin.

Dengan ramah, orang nomor 1 di BRI itu bertanya tentang model bisnis dan visi kumparan sebagai media. Termasuk perbedaan dengan media sejenis, yang lebih dulu ada. Hugo Diba menjelaskan perjalanan perusahaan yang baru 'seumur jagung' ini, hingga target dan rencana bisnis ke depan yang ingin dicapai.

Menurutnya, visi kumparan sebagai media, mirip media-media mainstream terkemuka dunia. Katakanlah seperti The New York Times atau The Washington Post, untuk menyebut beberapa contoh.

Singkatnya, kata Hugo, kumparan sebagai media ingin membangun dan menjunjung kredibilitas, namun tetap profitable. Untuk mencapai keduanya, kumparan memfokuskan investasi ke sumberdaya manusia dan pengembangan teknologi.

"Kita belajar dari bisnis The New York Times, Washington Post dan juga The Economist. Mereka melakukan dua hal yakni membangun kredibilitas dan juga investasi di teknologi," kata Hugo menjawab pertanyaan Suprajarto.

Soal pengembangan basis teknologi yang dilakukan kumparan, membuat Suprajarto agak terperangah. "Wah, ternyata sudah sejauh itu perkembangannya," ujar dia.

Setelah penjelasan singkat dari Hugo, kini giliran Suprajarto menjelaskan tentang kondisi terkini BRI hingga rencana ke depan. Sambil menikmati secangkir kopi hitam dengan campuran gula rendah kalori, ia menjelaskan proses membangun industri dan ekosistem perbankan masa depan.

Direktur Utama Bank BRI, Suprajarto (kedua kanan) berkunjung ke kantor kumparan, Rabu (27/3). Foto: Dok. Bank BRI

"Wah, kopinya enak. Tapi kalian harus coba kopi Banyuwangi," kata Suprajarto mengomentari tegukan pertama kopinya. BRI memang punya petani kopi binaan, di wilayah ujung timur Pulau Jawa itu.

Tentunya selain petani berbagai komoditas lainnya, di berbagai daerah di Indonesia. "Jujur saja, awalnya kita coba-coba membina petani-petani ini. Tapi ternyata potensinya besar. Sayang kalau ditinggal, jadi kita bantu dari hulu ke hilirnya," imbuh dia.

Pria yang akrab disapa Supra ini, kembali ke topik pembicaraan soal teknologi. Perusahaan, katanya, akan memanfaatkan teknologi seperti Big Data untuk menangkap peluang bisnis perbankan ke depan.

BRI akan diarahkan menjadi perbankan berbasis teknologi yang didukung oleh ekosistem industri perbankan. Dengan paparan yang santai namun serius, Suprajarto mengaku hal tersebut harus dilakukan agar tak tertinggal, bahkan pasarnya bisa diambil perbankan asing bila BRI tak masuk ke sana.

"Kita ciptakan ekosistem, termasuk di dalamnya mengembangkan Big Data. Kemudian kita masuk ke fintech. Kalau tidak, nanti asing yang masuk," kata Suprajarto.

Hal ini juga dilakukan untuk membuat mesin pendapatan baru di luar bunga. Ke depan, BRI akan menaikkan pendapatan dari jasa layanan (fee based income) hingga berkontribusi 40 persen dari total income.

Teknologi tersebutlah yang nantinya menjadi mesin pendapatan baru bagi BRI. Rasanya, kita satu-satunya perbankan di Indonesia yang sudah ke sana," kata pecinta kopi hitam ini.

Selama menjabat di BRI, Suprajarto juga bercerita tentang kesukaannya berkeliling kantor cabang dan unit di seluruh Indonesia, termasuk ke daerah pelosok.

Dengan semangat, ia bercerita tentang hasil blusukan ke daerah-daerah. Dari sana, ia mendapat ide untuk membuka layanan perbankan dengan konsep branchless banking, yakni layanan perbankan tanpa perlu membuka kantor resmi.

Dirut BRI Suprajarto. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Caranya BRI menyediakan fasilitas teknologi terhadap masyarakat yang menjadi agen BRI dengan nama BRILink.

"Saya kan suka keliling. Saya ke pucuk-pucuk gunung. Orang ke situ effort tinggi. Kita bikin unit hitungan cost enggak feasible. Kita tanya teman teknologi, di buat agen bank. Uji coba di Gombong di atas, dan Banyuwangi saya datangi sendiri seminggu dibuka, sudah antre. Potensi masa depan," tuturnya.

Diimbuhi topik pembicaraan ringan lainnya, waktu hampir sejam tanpa terasa sudah dilewati. Sayangnya, pria kelahiran Yogyakarta ini telanjur membuat janji untuk periksa gigi, sehingga dia harus beranjak dari kantor kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57