Pencarian populer

Dirut Inalum Buka-bukaan soal Pencaplokan Freeport

Wawancara khusus Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Jamal Ramdhan/kumparan)

Sejak 1967, Indonesia hanya memiliki 9,36 persen saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Setelah 51 tahun, akhirnya Indonesia berhasil menguasai 51 persen saham PTFI usai PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum menandatangani Sales Purchase Agreement (SPA) dengan Freeport McMoRan Inc (FCX) dan PT Rio Tinto Indonesia pada Jumat (27/9) lalu.

Menguasai kepemilikan PTFI berarti menguasai Tambang Grasberg, tambang yang memiliki cadangan emas terbesar di dunia.

Semula banyak yang ragu Inalum bisa membeli 51 persen saham PTFI. Head of Agreement (HoA) yang diteeken Inalum dan FCX pada 12 Juli 2018 lalu misalnya, dianggap hanya pencitraan dan gagah-gagahan.

Tapi keraguan itu akhirnya terpatahkan karena hanya 2,5 bulan setelah HoA ditandatangani, Inalum resmi membeli 51 persen saham PTFI.

Keraguan dari berbagai pihak justru menjadi motivasi bagi Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin untuk membuktikan bahwa divestasi 51 persen saham PTFI bukan sesuatu yang mustahil.

Pria kelahiran 1964 yang pernah menjadi Dirut Bank Mandiri ini adalah salah seorang yang berperan besar dalam keberhasilan pemerintah bernegosiasi dengan FCX. Ditemui kumparan di Energy Building pada Jumat (18/9), Budi buka-bukaan soal pencaplokan Freeport. Berikut kutipannya:

Bagaimana perasaan Bapak setelah akhirnya Inalum berhasil membeli 51 persen saham Freeport? Sekarang (banyak) ngantuk karena (selama ini) pulangnya sampai jam 3 pagi terus, berat banget. Tapi Alhamdulillah sudah selesai.

Bisa diceritakan bagaimana momen-momen saat proses negosiasi ini berlangsung? Perbedaan pendapat itu pasti selalu ada, dan banyak perbedaan pendapat itu. Tapi kita kan sudah beberapa kali melakukan ini sepanjang karir. Jadi perbedaan pendapat itu kadang lebih ke persepsi, tapi sebenarnya enggak berbeda sekali.

Misalnya kan salah satu komponen dari transaksi ini, kita ambil Participating Interest (PI) Rio Tinto. PI Rio Tinto itu kan menjamin volume produksi tertentu untuk Freeport, volume produksi tertentu untuk Rio Tinto. Kita ambil alih Rio Tinto, jadi kan bagi-bagi volume produksi. Sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan nilai keuangannya? Kita kan bicara nanti profitnya seperti apa sebagai pemegang saham. Pemegang saham kan enggak ngomongin volume produksi tapi mengenai profit. Nah itu bentrok, Freeport kan pinginnya produksi, kita pinginnya profit, itu kan enggak terlalu konflik amat. Nah contoh seperti itu banyak.

Banyak yang ragu Inalum bisa menguasai 51 persen saham Freeport. Tapi ternyata akhirnya itu jadi kenyataan. Apa kunci keberhasilan dalam negosiasi ini? Sebenarnya kalau yang biasa melakukan transaksi di investment banking, merger dan akuisisi itu langkah-langkahnya jelas. Jadi kalau kita negosiasi mau jual beli perusahaan, harus ada suatu principle agreement yang ditandatangani di depan. Ada yang namanya basic term, Head of Agreement. Itu menjadi dasar. Kalau dasarnya saja sudah enggak setuju, transaksinya enggak ada.

Jadi kalau orang bilang HoA ini hoaks, enggak mengikat, kita jelasinnya capek juga. Orang-orang itu enggak mengerti, kita jelasinnya panjang. Tapi buat orang investment banking selalu ada itu principle agreement, itu biasanya harga dan struktur sudah pasti. Baru kemudian final agreement atau detail agreement-nya yang namanya Sales and Purchase Agreement.

Ini sebenarnya juga belum selesai sepenuhnya lho. Perpindahan sahamnya belum terjadi, semua orang di capital market yang sudah biasa dengan transaksi merger dan akuisisi juga tahu. Harus ada transaction closing. Antara SPA dengan closing itu ada administrasi dokumen banyak banget. Makin besar transaksi, makin banyak dokumennya. Kemudian administrasi izin, di sini izinnya banyak. Ketiga adalah payment. Tiga ini harus selesai dulu baru bisa closing.

Jadi binding atau enggak? Kalau definisi legal, binding. Tapi belum pasti terjadi. Orang banyak yang enggak mengerti.

Dari administrasi perizinan yang harus diurus, mana yang paling sulit? Izin-izinnya banyak banget, saya lihatnya saja sudah capek, tebal sekali. Tapi kita lihat yang paling critical, yang paling lama biasanya payment. Ada administrasi dokumen, ada administrasi izin, ada administrasi payment. Karena orang kan mesti cari uangnya. Tapi karena kita bankir dan uangnya sudah tersedia duluan, kita sudah dapat uangnya cepat dan uangnya masuk November 2018.

Nah yang kita baru tahu, ternyata Freeport itu mesti dapat izin di 7 atau 9 negara, bikin lama itu. Izin apa itu? Izin antitrust law. Antitrust law apa? Yang paling lama di China. Freeport ini perusahaan Amerika, kok mesti izin ke antitrust (badan anti monopoli) China? Saya baru sadar, ini hebatnya pemerintah China. Jadi mereka itu bikin antitrust bukan hanya untuk domestik, tapi untuk global.

Logika mereka begini, China butuh tembaga banyak banget, jadi dia impor tembaga. Perusahaan tembaga di dunia misalnya ada 4, tiba-tiba 2 terbesar merger sehingga jadi tinggal 3, akibatnya perusahaan tembaga gabungan ini memiliki kontrol lebih besar pada produksi tembaga dunia. China melihatnya ini bisa kartel harga, sementara China pembeli terbesar. Maka kalau mau jualan ke China, harus izin (untuk merger/akuisisi) ke China. Itu pintarnya dia. Seluruh dunia diatur, hebat. Orang enggak berani karena pasarnya dia besar.

CEO PT Freeport McMoran Inc, Richard Adkerson bersama Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin Resya Firmansyah/kumparan (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)

Berapa persen pasar tembaga China yang dikuasai Freeport? Saya rasa lumayan besar, tapi saya belum lihat angkanya. Sehingga mereka perlu minta persetujuan ke China. Walaupun logikanya, dulu kan ini punya Freeport 100 persen terus sekarang jadi punya Indonesia, harusnya buat China justru menambah seller, bukan mengurangi. Freeport mungkin punya tambang tembaga di Afrika, Amerika Selatan, sekarang yang dari Papua jadi milik kita (Inalum). Kita minta harusnya tahun ini selesai. Kalau izin dari China itu belum keluar, Freeport enggak berani closing.

Kira-kira berapa lama izin dari antitrust China itu bisa keluar? Orang bilang antara 1-3 bulan. Susah ditebak karena hubungannya sekarang lagi tegang juga sama Amerika Serikat (AS).

Bisa dijelaskan poin-poin penting dari perjanjian yang kemarin ditandatangani Inalum dan Freeport? Perjanjian yang kemarin itu ada 3, dengan Freeport 2 dan dengan Rio Tinto 1. Dengan Freeport (FCX), yang pertama adalah PT Freeport Indonesia Divestment Agreement. Isinya adalah transaksi nanti pada saat closing. Jadi perjanjian ini hanya berlaku sampai saat closing. Isinya jual beli PT Indocopper Investama oleh Inalum.

Kemudian juga ada Economic Replacement Agreement milik Rio Tinto yang dipindahkan ke kita. Kemudian ada Subscription Agreement karena nanti PT Freeport Indonesia akan Right Issue. Itu semua dijadikan satu perjanjian yang namanya PT Freeport Indonesia Divestment Agreement. Yang tanda tangan kita dengan Freeport. Perjanjian itu selesai setelah transaksi selesai, artinya setelah kita bayar lunas.

Perjanjian yang kedua dengan Freeport (FCX) adalah Shareholder Agreement. Ini mengatur sampai 2041, perjanjian ini hidup terus sampai 2041 yang mengatur hubungan kita dengan Freeport (FCX) sebagai pemegang saham dari PT Freeport Indonesia (PTFI).

Perjanjian ketiga adalah antara kita dengan Rio Tinto, yaitu PT Rio Tinto Indonesia Sales and Purchase Agreement. Itu jual beli saham biasa, jadi kita beli PT Rio Tinto Indonesia, kita ambil PI-nya yang nanti kita tukar menjadi saham di perjanjian PT Freeport Indonesia Divestment Agreement.

Ada 11 bank asing yang sudah menyiapkan dana untuk Inalum. Mengapa ada rencana menerbitkan obligasi? Sebenarnya bukan rencana menerbitkan obligasi. Kita kan pembiayaan cari yang paling murah dong cost-nya untuk pendanaan (pembelian saham PTFI). Kita punya cash USD 1,5 miliar, kita bisa pakai itu. Kita juga bisa pinjam, bisa juga dari obligasi. Kita lagi cari yang paling bagus yang mana.

Kalau cash enggak bayar bunga setiap tahun, cuma loss opportunity saja. Harusnya kalau saya taruh di deposito bisa dapat bunga 5 persen, ini jadi enggak dapat karena dipakai untuk transaksi.

Kalau kita pakai pinjaman dari bank, enaknya uang kita jadi banyak, uang cash kita enggak diapa-apain. Bagusnya bank, bunganya relatif lebih rendah, tapi jeleknya dia bisa variable, bank itu jarang kasih bunga fixed. Sekarang masih rendah, tapi kalau bunga naik kita apes. Tahun ini 4 persen, 3 tahun lagi bisa 7 persen, padahal ini jangka waktunya 20 tahun.

Kalau obligasi, jeleknya prosesnya lebih lama dan syaratnya paling ketat tapi dia bunganya fixed. Misalnya bunganya 5 persen, fixed selama 10 tahun. Sekarang kita lagi cari-cari yang pas, kondisi pasar kan berubah-ubah terus.

Kalau hitung-hitungan kita, (pembayaran) November selesai. Cuma saya baru tahu soal izin dari China. Kalau kita ambil pinjaman bank di November tapi izinnya belum keluar kan sayang, kita sudah mulai bayar bunga.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Kalau mau menerbitkan obligasi, rencananya berapa bunganya dan tenornya berapa lama? Kita maunya kalau obligasi agak panjang. Tapi kombinasinya berapa yang cash, berapa yang dari pinjaman, berapa dari obligasi kita masih kaji.

Nilai 51 persen saham PTFI sebesar USD 3,85 miliar dihitung dengan asumsi izin operasi sampai 2031 atau 2041? Sampai 2041.

Tapi kan IUPK yang akan diberikan pemerintah hanya berlaku sampai 2031, apakah nanti enggak dianggap kemahalan? Kalau ingat Pak Jonan dulu bicara pada Agustus 2017, ada Framework Agreement dengan Freeport McMoRan, ini enggak berdiri sendiri-sendiri. Ini merupakan satu paket. Kalau dibaca di situ, perpanjangan sampai 2041 dengan terms yang disetujui. Itu secara substansi, bahwa nanti mekanismenya ada 2 step, ya enggak apa-apa. Tapi secara substansi perpanjangan sampai 2041, pembangunan smelter dalam 5 tahun, dan pendapatan negara mesti lebih besar dari sebelum takeover, dan mesti divestasi 51 persen.

Sekarang nilai perusahaan PTFI hitungan Freeport USD 22 miliar, kalau Kucing Liar enggak dibangun jadi USD 21 miliar. 51 persen sahamnya sekitar USD 11 miliar. Kita beli hanya USD 3,85 miliar. Semua orang yang mengerti bilang ini murah banget, orang Freeport geleng-geleng semua. Kalau saya dibilang merugikan negara, jual saja itu (51 persen saham PTFI), pasti dapatnya lebih USD 3,85 miliar.

Apakah kesepakatan perpanjangan sampai 2041 dalam Framework Agreement ini mengikat pemerintahan yang akan menggantikan pemerintahan saat ini? Itu yang ditanyakan juga oleh Freeport. Itu lebih tepat ditanyakan ke Kementerian ESDM. Yang saya pahami adalah, Framework Agreement itu sampai 2041. Memang pemberiannya enggak bisa langsung, tapi step-nya ada kriterianya. Kriteria itu yang setahu saya sudah fixed di IUPK.

Jadi enggak mungkin ini (Freeport) bisa divestasi 51 persen kalau (perpanjangan) enggak 2041. Dasarnya sudah ada.

Dalam Shareholder Agreement, bagaimana pengaturan suara dalam pengambilan keputusan antara Inalum dan Freeport serta pembagian posisi direksi? Suara kan jelas kita 51 persen. Cuma kita setuju untuk membangun prinsip dengan Freeport (FCX), kita mau jago-jagoan, atau mau bikin perusahaan yang menguntungkan kita ke depan. Saya kan bankir, saya sudah sering lihat mana perusahaan yang berhasil dan mana yang enggak. Kalau yang berhasil itu yang shareholder-nya kompak, yang enggak berhasil itu kalau pemegang sahamnya berantem.

Kita bankir tahu sekali bahwa shareholder harus kompak, ini critical buat pengembangan bisnis ini. Kenapa? Ini adalah tambang bawah tanah terbesar dan terkompleks di dunia, kalau kita ribut-ribut terus enggak mengurusi kerjaan, enggak jalan ini. Ini tambang yang secara teknis paling kompleks.

Yang kedua, mereka (PTFI) lagi dalam transisi karena open pit sebentar lagi habis. Sekarang masuk besar-besaran ke tambang bawah tanah. Jadi infrastruktur besar akan dibangun tahun ini dan tahun depan. Pasti Inalum enggak akan dapat dividen karena uangnya semua dipakai buat membangun. Kalau kita (Inalum dan FCX) ribut-ribut bertengkar, enggak jadi ini.

Yang ketiga, ini (investasi pertambangan) kan pakai pinjaman. Kalau gratis sih enggak apa-apa. Kalau ada apa-apa dengan produksi, kita bingung bayar pinjaman bagaimana, ini kan 20 tahun. Dia (FCX) juga bingung.

Jadi begini, kita enggak usah kuat-kuatan, gede-gedean ego. Kita ingin jalan, salah satu agar jalannya bagus adalah harus bareng-bareng. Jadi konsepnya kita, bukan I'm the biggest, you are the lowest. Bedanya kan cuma sedikit, 51 persen dan 49 persen.

Saya bilang ke Richard (Adkerson, CEO FCX), ini kita bakal kawin, Inalum suami dan FCX istri. Kawin itu walaupun saya lebih kaya 2 persen, emang jadi suami bisa bilang 'gaji saya lebih tinggi, saya yang tentukan semuanya mulai dari gorden sampai furniture, kamu enggak boleh tentukan'. Berantem nanti rumah tangga. Anda bisa lebih berkuasa dari istri anda, tapi kan ajak ngomong istri dong kalau mau memutuskan sesuatu. Apa mau 20 tahun isinya bertengkar terus? Kan capek. Jadi enggak bisa konsepnya ini bagian saya, ini bagian anda.

Sekarang Shareholder Agreement semuanya dimasukin. Saya bilang ke Richard, anda kan pernah menikah, waktu nikah perjanjian pra nikah, ditulis bagian masing-masing. Dari rumah sampai handphone diatur, ini punya saya dan ini punya anda. Bagaimana mau kawin kalau belum kawin saja sudah begitu? Mendingan jangan kawin karena pasti ribut. Jadi kita duduk bareng-bareng saja, kita ini businessman biar ini jalan tambang bawah tanah paling kompleks. Kita jalankan saja ini dengan spirit partnership, harus berdua. Suami boleh lebih berkuasa dari istrinya, tapi mesti ngajak ngomong, kan enggak susah. Jadi pengambilan keputusan lebih mengedepankan konsensus.

Pembagian posisi direksi bagaimana? Termasuk itu juga konsensus, karena kita sudah lihat bahwa begitu dibagi 3 orang dari Inalum dan 2 orang dari FCX, ini pasti berantem. Jadi kita pilih bareng-bareng, kita setuju mereka setuju. Ada konsensus, ini seperti membangun keluarga, enggak bisa kita pakai ego sendiri. Tujuannya sama-sama bikin keluarga yang baik, anaknya sukses-sukses, tujuannya sama. Egonya mesti sama-sama dikurangi.

Jika nanti suatu saat ada penambahan modal, apakah kepemilikan saham Inalum sebesar 51 persen di PTFI tidak akan terdilusi? Enggak boleh, tetap 51 persen milik Indonesia. Kan ada di Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2018.

Suasana tambang emas Freeport (Foto: REUTERS/Muhammad Adimaja/Antara Foto)

Apakah Inalum sudah menyiapkan dana untuk investasi pengembangan bawah tanah sampai 2041? Itu kan dibilangnya USD 20 miliar. Ternyata Freeport itu butuh USD 20 miliar kalau dia bangun tambang bawah tanah yang namanya Kucing Liar, dimulainya 2018 sampai 2041. Kalau tanpa Kucing Liar, hanya USD 12 miliar-13 miliar selama 20 tahun. Jadi USD 13 miliar kalau dibagi 20, setahun paling USD 600 juta. EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) dia (PTFI) itu USD 4 miliar. Butuh PMN enggak? Enggak perlu, karena cash flow-nya sudah bisa menutup. Jadi dia itu didanai oleh internal cash flow. Ditakut-takutin saja dibilang butuh USD 20 miliar, EBITDA-nya saja setahun USD 4 miliar, bisa di-cover. Jadi enggak perlu minta tambahan modal ke pemegang saham.

Tapi kalau Kucing Liar tidak dikembangkan nanti berpengaruh ke produksi dalam jangka panjang? Kalau Kucing Liar ada, dia bisa sampai 2051 atau 2061. Freeport enggak mau bangun karena rugi. Dia bangun 2021, berproduksi 2032-2033, dia cuma dapat 8 tahun. Kalau mereka dapat perpanjangan lagi, pasti dia bangun. Kalau dia sudah dapat sama kita, mereka pasti mau bangun karena punya kesempatan lebih besar untuk lanjut terus, kan temannya kita.

Kalau tanpa Kucing Liar, secara NPV (Net Present Value/arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskontokan pada saat ini) sampai 2041 lebih bagus karena investasinya lebih sedikit. Kita bankir lihat NPV-nya. Makanya Freeport bilang enggak usah dulu.

Bagaimana agar suatu saat tambang yang sangat kompleks di Papua ini bisa dikelola sendiri oleh Inalum? Tambang ini yang terkompleks dan terbesar di dunia. Begitu saya lihat, mungkin bisa kita kelola sendiri. Tapi kalau enggak ada ilmu, ini ngeri banget, gede banget. Panjang terowongan di bawah tanahnya sampai 1.000 kilometer (km). Tol saja dibangun berapa tahun sampai 1.000 km.

Tambang ini penting karena ini menjadi pusat perekonomian di Papua. Kedua, tambang ini penting karena ini akan jadi pusat pengetahuan dan teknologi tambang bawah tanah dunia. Ini adalah tambang bawah tanah dan paling kompleks di dunia. Kalau kita hanya menghitungnya secara ekonomis, itu salah. Dengan kita punya tambang bawah tanah ini, semua ahli-ahli pertambangan terbaik di dunia itu harusnya ada di Indonesia.

Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Misalnya dokter ahli bedah jantung di New York. Tapi di New York orangnya sehat-sehat enggak ada yang sakit jantung, bagaimana bisa ahli? Jadi selain jadi pusat ekonomi, ini menjadi pusat pengetahuan tambang bawah tanah dunia. Saya mau kerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi yang punya jurusan geologi, tambang, kerja sama dengan pusat geologi.

Dari sisi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ini kesempatan terbaik kita. Orang Indonesia harus sebanyak mungkin masuk. Kami sebagai pemilik baru dan Freeport sudah setuju, kita mau bawa lulusan Indonesia yang terbaik ke sini untuk dapat teknologi, skill, dan knowledge-nya.

Bagaimana soal rencana pembangunan smelter Freeport? Ini juga bisa dijadikan pusat hiirisasi pertambangan Indonesia karena di sana ada sungai. Smelter itu butuhnya cuma dua, yaitu ore dan listrik. Ore tembaga sudah ada di situ. Jadi kalau kita mau jual tembaga, kalau mau bikin produk turunan jadi copper block, atau copper table yang dibutuhkan mobil listrik, itu bisa dibangun di sana. Murah karena barangnya ada di sana dan sumber energinya besar.

Saya baru tahu, ada pengusahha bilang sudah bikin FS (feasibilty study) di Urumuka di Timika, bisa bangun 2.000 Megawatt (MW). Mereka sudah siap FS untuk 500 MW dan mau jual listriknya ke Freeport karena Freeport masih masih pakai pembangkit diesel dan batu bara. Kalau pakai PLTA, turun biayanya karena lebih murah dan lebih ramah lingkungan. Tapi Freeport belum mau beli karena belum dapat perpanjangan.

Saya di Inalum pakai listrik dari hydro, cuma USD 1,7 sen per kWh. Batu bara paling murah USD 4,5 sen per kWh. Gas bisa USD 9 sen per kWh, diesel bisa USD 12 sen per kWh. Kalau listriknya cuma USD 1,7 sen per kWh, mati kompetitor kita. Ore di situ, sumber energinya di situ. Jadi ini bisa jadi pusat hilirisasi pertambangan di Indonesia dan dunia.

Apakah setelah dimiliki Inalum, penerimaan negara dari operasi tambang Freeport di Papua jadi lebih baik? Kalau menurut saya, secara penerimaan negara akan lebih tinggi totalnya dari pajak dan royalti. Tapi distribusinya agak beda dari pajak penghasilan, royalti, dan profit yang mesti dikasih ke Pemda. Tapi total pendapatan negara termasuk ke pemda akan lebih tinggi.

Tapi enggak hanya itu, saya sudah bilang ke Ibu Sri Mulyani. Secara ekonomi yang paling menguntungkan bukan itu. Di sektor sumber daya alam Indonesia, Indonesia dilihat sangat nasionalis, menutup diri terhadap investor.

Sekarang di industri pertambangan ada contoh bahwa semua investor alam, multinasional besar, nyaman berpartner dengan kita. Mereka kan enggak pergi. Nanti kalau Freeport berhasil dan senang, dia akan cerita di luar negeri. Orang pasti dengar di luar, investor jadi mau masuk. Ini jadi preseden bagus. Dampaknya akan jauh lebih besar dalam 5 tahun ke depan dibanding penerimaan negara. Dolar masuk, itu yang dibutuhkan Indonesia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32