kumparan
27 Sep 2018 14:10 WIB

Distribusi Biodiesel ke Indonesia Timur Macet, Ini Langkah Pemerintah

Ilustrasi biodiesel. (Foto: AFP/Pornchai Kittiwongsakul)
Sejak perluasan mandatori biodiesel 20 persen (B20) dicanangkan Kementerian Perekonomian pada 31 Agustus 2018, baru 69 dari 112 Terminal BBM Pertamina yang memperoleh pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Eter) untuk bahan campuran Solar.
ADVERTISEMENT
Sebagian besar Terminal BBM Pertamina yang belum mendapat pasokan FAME berada di Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua dan Sulawesi. Implementasi program B20 pun belum sesuai target karena masih banyaknya Terminal BBM yang belum bisa menyalurkan biodiesel.
Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengakui, masih banyak kendala dalam implementasi B20 ini. Namun masalah hanya persoalan teknis di lapangan saja, bukan di kebijakan.
"Sekarang masalah di tataran operasional. Kebutuhan terhadap kapal jadi tinggi. Masalah tidak di kebijakan, tidak di harga," kata Rida dalam diskusi dengan media di Jakarta, Rabu (27/9).
Persoalan di lapangan itu terutama timbul karena belum siapnya infrastruktur untuk distribusi FAME ke daerah-daerah terpencil. Rida mencontohkan pengiriman FAME ke beberapa daerah yang terlambat karena antrean kapal.
ADVERTISEMENT
Pihaknya pun segera meminta PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk mendahulukan pengangkutan FAME.
"Infrastruktur untuk distribusi, tangki penyimpanan belum 100 persen siap. Pengirimannya harus antre. Kami sampaikan ke ASDP agar didahulukan. Ini (FAME) harus diperlakukan seperti sembako atau BBM," ujarnya.
Ilustrasi Biodiesel (Foto: Reuters/Mike Blake)
Ia menambahkan, ketersediaan kapal juga menjadi masalah utama. Beberapa daerah sulit dijangkau karena tak memiliki kapal yang pas untuk mengangkut FAME. Misalnya untuk pengiriman FAME ke pulau-pulau kecil di Maluku, jumlah FAME yang diangkut sedikit sehingga terlalu mahal kalau dibawa dengan kapal besar, tapi kapal kecil juga tidak bisa membawanya karena laut di sana cukup ganas.
"Produksi FAME didominasi di Sumatera, ada juga Kalimantan. Titik demand ada di Papua, Maluku. Konsumsinya enggak sebesar di Jawa, kalau dibawa pakai kapal gede, yang dibawa terlalu sedikit, pakai kapal kecil susah," Rida menuturkan.
ADVERTISEMENT
Saat ini pemerintah masih melakukan inventarisasi masalah dan berupaya mencari solusi untuk tiap daerah.
"Ini semua sedang dicari solusinya," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan