Pencarian populer

Evaluasi Mudik 2019: Pengusaha Bus Kecewa dengan Penetapan One Way

Suasana Terminal Bus Kampung Rambutan. Foto: Ricky Febrian/kumparan

Musim mudik dan arus balik pada Lebaran 2019 sudah berakhir. Meski hari ini diperkirakan masih ada pemudik yang balik ke kota, jumlahnya tak sebanyak seperti pekan lalu.

Meski mudik dan balik sudah usai, ada kebijakan dari pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan rencana awal, yakni penetapan jalur satu arah atau one way di jalan Tol Trans Jawa.

Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengaku, kebijakan one way kemarin tidak sesuai dengan janji pemerintah yang mencanangkan pemudik menggunakan angkutan umum untuk pulang kampung. Yang ada, kata dia, malah membuat masyarakat banyak pakai mobil pribadi.

“Menurut hemat kami keputusan one way berhasil menggiring masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi. Jadi apa yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menggunakan angkutan umum itu isapan jempol semata.Terbukti dengan kemacetan yang terjadi pada saat arus mudik dan balik,” kata dia kepada kumparan, Minggu (16/6).

Foto udara jalan tol Pejagan-Pemalang ramai di Brebes Timur, Jawa Tengah, Sabtu (1/6). Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Akibat kebijakan one way yang situasional dan diperpanjang itu, operasional bus sangat terganggu pada saat arus balik. Puncaknya pada Sabtu dan Minggu, 8 dan 9 Juni 2019.

Kata dia, hari pemberangkatan bus berantakan semua, baik dari timur dan dari barat. Bus yang berangkat dari timur, Sabtu (8/6) baru tiba di barat (Jakarta) Minggu sore. Begitu juga bus yang dari barat ke timur. Untuk jalur lintas selatan pun demikian.

“Di daerah Bumi Ayu terjadi stuck dari jam 01.00 dini hari Minggu sampai dengan jam 11.00 masih stuck tidak bisa gerak. Baru mencair menjelang jam 14.00 siang. Banyak penjadwalan ulang keberangkatan bus baik di barat maupun dari timur,” ucapnya.

Padahal, kata dia, dalam perjalanan normal, bus yang berangkat dari timur ke barat bisa ditempuh 8 sampai 9 jam. Meski begitu, Kurnia mengaku, sopir masih bisa mengatasi kemacetan yang ada.

Dia pun meminta agar pemerintah mengevaluasi kebijakan yang ada pascapenetapan one way diberlakukan. Termasuk kebijakan pemberian diskon tarif tol Trans Jawa 15 persen yang malah memancing masyarakat untuk menggunakan jalan tol dengan kendaraan pribadi.

“Yang jelas pemerintah harus benahi angkutan umum secara keseluruhan. Jangan sepotong-sepotong. Kami sudah sampaikan (apa yang sudah dibenahi) tapi ya sudahlah,” ucapnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55