kumparan
13 Okt 2019 8:06 WIB

Gas Jambaran - Tiung Biru Bisa Belok ke Tambak Lorok

Pertamina Mulai Pengeboran Gas di Jambaran-Tiung Biru. Foto: dok. Pertamina
PT Pertamina EP Cepu (PEPC) melaksanakan prosesi pengeboran sumur atau Spud In Proyek Pengembangan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Bojonegoro pada Rabu (9/10). Produksi gas dijadwalkan akan dimulai pada Kuartal II 2021.
ADVERTISEMENT
Dari total produksi gas JTB sebesar 192 MMscfd, sebanyak 100 MMscfd di antaranya akan dialirkan melalui pipa transmisi Gresik-Semarang ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Jawa 3. Namun ada kemungkinan jadwal operasi PLTGU Jawa 3 mundur.
Agar produksi tak terganggu, gas dari JTB bisa saja dibelokkan ke PLTGU Tambak Lorok. Kebetulan saat ini PLTGU Tambak Lorok kekurangan pasokan gas karena terhentinya produksi dari Lapangan Kepodang sejak 2018 lalu.
Gas dari JTB dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan PT PLN (Persero) di sana. Sebab, pipa transmisi Gresik-Semarang dapat tersambung ke pipa transmisi Kepodang-Tambak Lorok alias pipa Kalimantan-Jawa I (Kalija I).
"Tambak Lorok itu kan sumbernya dari Lapangan Kepodang, tinggal sedikit pasokannya. Gas JTB akan dialirkan melalui pipa Gresik-Semarang, bisa ke Jawa Timur dan Jawa Tengah," kata Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan saat berdiskusi dengan media, Kamis (9/10).
ADVERTISEMENT
PLTGU Tambak Lorok sebenarnya membutuhkan gas hingga 116 MMscfd dari Lapangan Kepodang. Namun, cadangan gas di Lapangan Kepodang ternyata tidak sebesar yang diperkirakan.
Dalam Plan of Development (POD), Lapangan Kepodang rencananya memproduksi gas dan memasok ke PLTGU Tambak Lorok lewat pipa Kalija I sampai 2026, tapi ternyata gasnya sudah habis di September 2019.
Penurunan produksi dari Lapangan Kepodang sudah disampaikan Petronas sejak beberapa tahun lalu. Pada 2016, Petronas menyalurkan gas sebesar 90,37 MMscfd, kemudian anjlok pada 2017 menjadi hanya 75,64 MMscfd. Pasokan berhenti total per 23 September 2019.
Kini PLTGU Tambak Lorok sudah mendapat pasokan gas pengganti dari Lapangan Gundih, tapi hanya 50 MMscfd. Dampaknya, PLTGU Tambak Lorok tak bisa beroperasi maksimal.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan