Pencarian populer

Gurita Bisnis Eka Tjipta Widjaja yang Hanya Lulusan SD

Eka Tjipta Widjaja (Foto: Dok. Orento)

Eka Tjipta Widjaja, pendiri sekaligus pemilik konglomerasi bisnis Sinar Mas Group meninggal di usia 98 tahun pada hari Sabtu, (26/1) di kediamannya, Jakarta. Eka Tjipta berpulang dengan mewariskan gurita bisnis yang luar biasa besar, dibangun sejak usia remaja.

Tamat Sekolah Dasar (SD) di Makassar, Eka Tjipta tidak mau sekolah lagi. Bisnis pertama pria kelahiran Quanzhou, Fujian, China, pada 27 Februari 1921 ini adalah berjualan biskuit dan permen. Pada tahun 1938, Eka berkeliling menggunakan sepeda untuk menjajakan dagangannya ke penjuru Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Ia juga pernah berjualan kopi hingga nasi ayam untuk tentara pendudukan Jepang di Pantai Losari, Makassar. Bisnis lainnya yang pernah dilakoni Eka Tjipta ialah minyak goreng, besi bekas, pembuat makam, hingga kopra. Namun, perjalanan bisnis di Makassar naik turun, bahkan beberapa kali gulung tikar. Besarnya kejayaan Eka Tjipta dimulai saat dia hijrah ke Surabaya.

Sepeda dan warung merupakan gambaran awal dari langkah kecil Pak Eka Tjipta Widjaja sebagai seorang wirausahawan. Beliau berkeliling dengan sepeda untuk menjual kue. (Foto: Twitter/@Sinar_MasID)

Eka Tjipta memulai bisnis perkebunan kopi dan karet serta membangun CV Sinar Mas di Surabaya. Lambat laun, bisnis-bisnisnya mulai beranak pinak dan semakin bervariasi. Kini almarhum Eka Tjipta memiliki enam pilar bisnis utama yang telah dikenal masyarakat.

Tak ayal, nama Eka Tjipta pun tak pernah absen dari daftar orang paling tajir di Indonesia. Forbes bahkan melaporkan total kekayaan Eka Tjipta ditaksir mencapai USD 8,6 miliar atau sekitar Rp 120,96 triliun pada 2018.

Berikut gurita bisnis yang dimiliki oleh mendiang Eka Tjipta Widjaja:

1. Pulp dan Kertas

Bisnis di bidang pulp dan kertas ini dimulai dengan didirikannya PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia pada 1972 di Jawa Timur yang sebelumnya dimaksudkan menjadi perusahaan kimia. Pada tahun 1990, perusahaan tersebut melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atas 9.300.000 saham dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dan harga penawaran Rp 9.500 per saham.

Saat ini, perusahaan dengan kode saham TKIM ini memiliki jumlah kepemilikan publik sebesar 40,33 persen dan sisanya dimiliki oleh induk usahanya PT Purinisa Ekapersada (Purinusa) sebesar 59,67 persen. Saat ini saham TKIM berada di level Rp 13.425 per saham.

Selain TKIM, perusahaan dengan usaha serupa lainnya adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP). Pada tahun yang sama, INKP memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham INKP (IPO) kepada masyarakat sebanyak 60.000.000 dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dan harga penawaran Rp 10.600 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada 16 Juli 1990. Per hari ini, saham INKP berada di level Rp 13.375 per saham.

Pabrik Sinar Mas Cepsa di Dumai (Foto: Arifin Asydhad/kumparan)

Seluruh bisnis pulp dan kertas milik Sinar Mas Group ini beroperasi di bawah naungan holdingnya Asia Pulp and Paper (APP) yang tak hanya beroperasi di Indonesia, namun juga di China.

Saat ini, total kapasitas produksinya mencapai 19 juta ton per tahun dengan penjualan mencakup 120 negara di dunia. Seiring dengan perkembangan pasar, APP juga akan membangun pabrik di India dengan tambahan kapasitas produksi sebanyak 5 juta ton per tahun.

2. Agribisnis dan Pangan

Di bidang bisnis ini, Sinar Mas Group memiliki holding usaha yakni Golden Agri-Resources Ltd (GAR) yang didirikan pada 1996. Perusahaan ini telah menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Singapura sejak 1999. Beroperasi di Indonesia, GAR memiliki anak usaha yakni PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).

Pada tahun 1992, SMAR memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SMAR (IPO) kepada masyarakat sebanyak 30.000.000 dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dan harga penawaran Rp 3.000 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada 20 November 1992. Per hari ini saham SMAR berada di level Rp 4.130 per saham.

SMAR diketahui memiliki total lahan seluas 138.000 hektare (termasuk plasma). Kegiatan bisnisnya yaitu meliputi penanaman dan pemanenan pohon kelapa sawit, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi minyak sawit (CPO), dan inti sawit hingga pemrosesan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel, dan oleokimia, serta perdagangan produk berbasis kelapa sawit ke seluruh dunia.

Produknya antara lain berupa minyak curah dan industri serta minyak goreng dalam kemasan yang dipasarkan dengan merk Filma dan Kunci Mas. Perusahaan ini mengoperasikan 16 pabrik kelapa sawit, 5 pabrik pengolahan inti sawit, dan 4 pabrik rafinasi di Indonesia.

3. Pengembang dan Realestate

Gurita bisnis yang lain adalah Sinar Mas Land Limited. Perusahaan ini menjalankan bisnis pengembang dan perumahan yang beroperasi di Indonesia, China, Malaysia, dan Singapura. Perusahaan ini bahkan memiliki portofolio properti yang berlokasi di London, Inggris.

Di Indonesia, bisnis properti Sinar Mas Land dijalankan oleh PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Kedua perusahaan ini saja memiliki core business di pengembangan kota, township, perumahan, komersial, ritel, kawasan industri dan perhotelan.

BSDE melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BSDE (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.093.562.000 dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga penawaran Rp 550 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 6 Juni 2008. Saat ini, saham BSDE tercatat di level Rp 1.415 per saham.

Sedangkan DUTI melakukan Penawaran Umum Perdana Saham kepada masyarakat sebanyak 25.000.000 dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dan harga penawaran Rp 3.150 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 2 November 1994. Hari ini saham DUTI berada di level Rp 4.370 per saham.

Sinarmas Land (Foto: sinarmasland.com)

Selain itu, Sinar Mas Land juga memiliki bisnis patungan (joint venture/JV) dengan Sojitz, perusahaan yang berasal dari Jepang untuk mengembangkan kota bernama PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Perusahaan ini melakukan IPO dengan menawarkan 4.819.811.100 saham senilai nominal Rp 100 per saham dengan harga penawaran Rp 210 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 29 Mei 2015. Kini saham DMAS berada di level Rp 210 per saham.

4. Layanan Keuangan

Melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), bisnis ini memberikan layanan keuangan untuk bisnis korporasi termasuk mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta perorangan. Bisnis ini mencakup perbankan, asuransi, pembiayaan nasabah, serta manajemen aset.

SMMA melakukan Penawaran Umum Perdana Saham SMMA (IPO) kepada masyarakat sebanyak 60.000.000 saham yang bernilai nominal Rp 500 per saham dengan harga penawaran sebesar Rp 1.800 per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 5 Juli 1995. Saat ini, saham SMMA berada di level Rp 8.400 per saham.

Ilustrasi Bank Sinarmas. (Foto: Instagram/@mega.anggun.noorasyva)

5. Komunikasi dan Teknologi

Selain itu Sinar Mas juga mengembangkan bisnisnya ke bisnis penyedia layanan telekomunikasi di bawah naungan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Pada tanggal 15 Nopember 2006, FREN memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham FREN (IPO) kepada masyarakat sebanyak 3.900.000.000 dengan nilai nominal Rp 100 per saham dengan harga penawaran Rp 225 per saham.

Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 29 November 2006. Per hari ini, saham FREN berada di level Rp 120. Perusahaan ini mengoperasikan 15.000 BTS 4G yang tersebar di 200 kota di seluruh Indonesia.

Smartfren (Foto: Bianda Ludwianto/kumparan)

6. Energi dan Infrastruktur

Terakhir, Sinar Mas juga memiliki usaha sebagai penyediaan energi listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel, dan multimedia. Usaha ini dijalankan oleh perusahaan bernama PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang berdiri pada 1996.

Pada tanggal 30 Nopember 2009, DSSA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham kepada masyarakat sebanyak 100.000.000 dengan nilai nominal Rp 250 per saham dan harga penawaran Rp 1.500 per saham.

Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 10 Desember 2009. Per hari ini saham tersebut tercatat melejit ke level Rp 15.000 per saham.

Bersama dengan anak-anak usahanya, DSSA menghasilkan produk dan layanan seperti tenaga listrik, batu bara, pupuk, pestisida, bahan kimia, TV berbayar, dan layanan internet serta infrastruktur BTS. Salah satu anak usaha yang juga tercatat di BEI yakni PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) yang dimiliki melalui United Fiber System Limited.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33