kumparan
11 Feb 2019 16:28 WIB

Harga BBM Turun, Bagaimana Dampaknya ke Keuangan Pertamina?

Ilustrasi SPBU Pertamina Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai 10 Februari 2019 pukul 00.00 waktu setempat (WIT, WITA dan WIB). Penurunannya berkisar antara Rp 50 per liter hingga Rp 800 per liter, berbeda untuk tiap produk BBM.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Pertamina juga menurunkan harga Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) menjadi Rp 6.450 per liter dari sebelumnya Rp 6.550 per liter, sehingga sama dengan harga di luar Jamali.
Bagaimana dampak turunnya harga BBM pada keuangan Pertamina?
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan bahwa keuangan Pertamina tak akan terpukul. Sebab, penyesuaian harga memang harus dilakukan menyusul penurunan harga minyak mentah dunia dan penguatan rupiah terhadap dolar AS.
"Kalau kita lihat kurs dan harga minyak hari ini, enggak besar dampaknya pada keuangan Pertamina karena harga minyak turun dan kurs rupiah menguat," kata Komaidi kepada kumparan, Senin (11/2).
Namun meski harga minyak dunia turun dan rupiah menguat, Pertamina tetap mengalami kerugian dari penjualan Premium.
ADVERTISEMENT
"Belum mencapai keekonomian (harga Premium). Tapi selisih antara harga keekonomian dengan harga yang ditetapkan pemerintah semakin mengecil," ucapnya.
Ia memperkirakan, harga keekonomian saat ini berada di kisaran Rp 7.000 per liter. "Kerugian dari Premium pasti tidak sebesar kemarin-kemarin (ketika harga minyak di atas USD 60 per barel)," ujar Komaidi.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengaku pihaknya tidak khawatir dengan penurunan harga BBM Premium. Menurut dia, penurunan ini juga tidak berpengaruh pada kondisi keuangan perusahaan.
“Enggak masalah, sudah dikalkulasikan. Enggak ganggu keuangan kok, tenang saja,” kata dia saat ditemui di Komisi VII DPR RI.
Nicke juga menjelaskan bahwa dengan penurunan harga Premium, pasokannya tidak akan dikurangi di SPBU. Kata dia, pasokan di lapangan tetap diawasi dengan benar oleh Pertamina dan Kementerian ESDM.
ADVERTISEMENT
Nicke mengatakan, tahun ini volume BBM Premium sebesar 10,5 juta kiloliter (KL). Jumlah ini sama dengan volume tahun lalu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan