kumparan
1 Nov 2018 14:48 WIB

Harga LNG untuk Konsumen Skala Kecil Masih Mahal

Kargo LNG domestik perdana 2018 (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) mendorong agar para pelaku usaha penyalur gas alam cair atau Liquified Natural Gas (LNG) untuk masuk ke industri skala kecil seperti perumahan, hotel, rumah sakit, dan mal.
ADVERTISEMENT
Salah satu perusahaan yang sudah menyalurkan LNG ke industri skala kecil adalah PT Laras Ngarso Gede atau Laras Energy. Direktur Utama Laras Energy, Andy Jaya Hermawan, mengatakan pemanfaatan gas alam cair ini bagus untuk industri skala kecil karena ramah lingkungan dan bersih dibandingkan LPG.
“Salah satu konsumen kita tadi Hotel Hilton Bandung, salah satunya karena concern sama lingkungan,” kata Andy saat ditemui di Gedung SKK Migas, Jakarta, Kamis (1/11).
Meski begitu, harga jual LNG ini masih mahal. Andy menuturkan, gas alam cair yang dibawa perusahaan berasal dari Tangguh di Papua dengan harga sekitar USD 8 per MMBTU. Karena jarak sumber gas jauh dari konsumen yang umumnya berada di Jawa atau Bali, harga jual ke konsumen akhir menjadi USD 20-21 per MMBTU.
ADVERTISEMENT
Tingginya harga gas di tingkat konsumen, diakui Andy karena memang ongkos transportasinya mahal. Untuk membawa gas alam cair hingga menjadi gas siap konsumsi untuk industri skala kecil mesti melewati tahap transportasi yang panjang. Itu pun tergantung lokasi setiap hotel yang jadi konsumen perusahaan.
“Kalau dari sisi harga jualnya memang masih tinggi, hampir mendekati harga LPG, sekitar USD 20-21 per MMBTU. Memang harga yang ada di ujung saat ini masih terlalu mahal, sehingga tidak banyak orang yang tertarik (untuk investasi atau mengkonsumsi),” jelas Andy.
Meski begitu, Andy melihat bisnis ini masih tetap menguntungkan bagi perusahaan. Tapi dia enggan bicara berapa margin yang diterima per MMBTU-nya. Dia berharap dengan workshop yang diadakan SKK Migas hari ini, makin banyak orang yang sadar dan mau menggunakan LNG karena lebih ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
Naiknya harga minyak dunia juga dimanfaatkan Andy agar bisnis penyaluran gas bersih ini lebih banyak lagi. Sebagai pelaku usaha, Andy berharap pemerintah mengeluarkan aturan harga jual LNG untuk pemakaian domestik dan ekspor dibedakan. Dengan begitu, harga yang dikeluarkan konsumen untuk bisa menikmati bahan bakar bersih ini lebih murah dari sekarang.
“Menurut saya bukan insentif. Harga di hulunya saja (yang dibedakan untuk ekspor dan domestik). Harapannya, ke depan LNG ini untuk domestik jangan ikut harga untuk ekspor dong, sehingga semua orang pindah dan mengurangi impor BBM untuk LPG,” tandasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan