Pencarian populer

Jadi Fintech Pertama yang IPO, Saham DavestPay Kena Auto Reject

PT Hensel Davest Indonesia Tbk hari ini resmi menjadi perusahaan teknologi finansial pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

PT Hensel Davest Indonesia Tbk hari ini resmi menjadi perusahaan teknologi finansial (fintech) pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO).

Perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (e-commerce) serta pendistribusian produk digital ini, mendapatkan kode saham HDIT. Perseroan menjadi emiten ke-32 yang melantai di bursa di tahun 2019.

“Kami merupakan fintech pertama yang melantai di BEI. Ini milestone yang besar dan awal bagi HDI. Ke depan dengan infrastruktur teknologi yang inovatif dan UMKM di dalam negeri, kami berharap dapat meningkatkan inklusi keuangan,” ungkap Direktur Utama Hensel Davest Indonesia Hendra David di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (12/7).

Dalam aksi korporasi ini, perusahaan dengan merek fintech DavestPay ini melepas sebanyak-banyaknya 381,17 juta saham atau sebesar 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga penawaran Rp 525 per saham. Dengan demikian, perseroan mengantongi dana sebesar Rp 200,1 miliar.

PT Arkha Jayanti Persada Tbk dan PT Inocycle Technology Group Tbk resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme initial public offering (IPO). Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan

Pada pencatatan perdana ini, saham HDIT naik 260 poin atau setara 49,52 persen ke level Rp 785 dari harga IPO Rp 525. Saham HDIT ditransaksikan sebanyak 1 kali dengan volume sebanyak 10 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp 785.000.

Dengan demikian, maka saham HDIT terkena auto reject atau penolakan otomatis sistem perdagangan bursa. Aturan auto reject berlaku jika harga saham naik atau turun secara drastis dalam rentang waktu tertentu.

Auto reject akan berlaku jika saham yang rentang harganya Rp 50-Rp 200, mengalami kenaikan atau penurunan hingga lebih dari 35 persen dalam sehari. Sementara untuk rentang harga saham Rp 200-Rp 5.000, akan terkena auto reject jika harganya naik atau turun hingga 25 persen dalam sehari. Adapun untuk saham dengan rentang harga di atas Rp 5.000, akan terkena auto reject jika mengalami kenaikan atau penurunan hingga lebih dari 20 persen dalam sehari.

Penerapan Auto Rejection terhadap harga di atas berlaku untuk perdagangan saham hasil penawaran umum yang pertama kalinya diperdagangkan di bursa (perdagangan perdana).

Hendra menjelaskan, seluruh dana hasil dari IPO ini akan dialokasikan sekitar 65 persen untuk peningkatan modal kerja DavestPay.

Selain itu, perseroan juga akan menggunakan dana IPO untuk akuisisi merchant berupa UMKM (warung) dan individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persediaan barang dagang, serta pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan.

Sementara itu, sekitar 10 persen dana IPO akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi, serta pengembangan SDM. Sisanya, sekitar 25 persen dari dana IPO akan digunakan untuk pembelian bangunan untuk operasional perusahaan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.54