kumparan
19 Feb 2019 13:47 WIB

Kemendes Jawab Dahnil Soal 191.000 Km Jalan 4,8 Kali Mengelilingi Bumi

Pembangunan jalan Desa Sumberagung di Banyuwangi oleh PT BSI Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Klaim calon presiden nomor urut 01 Jokowi terkait pembangunan 191.000 kilometer (km) jalan di desa menuai polemik. Data yang disampaikan dalam debat capres pada Minggu (17/2) tersebut dipertanyakan kubu calon presiden nomor urut 02, Prabowo-Sandi.
ADVERTISEMENT
Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Sumanjuntak, dalam akun twitternya @Dahnilanzar mempertanyakan pernyataan Jokowi soal pembangunan 191.000 kilometer jalan desa.
"Jokowi klaim membangun jalan desa 191.000 km. Ini sama dengan 4,8 kali Keliling Bumi atau 15 kali Diameter Bumi. Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa?Ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi," tulis Dahnil di akun twitternya.
Cuitan Dahnil pun direspons beragam oleh para netizen. Ada yang mendukung pernyataan Dahnil. Namun banyak juga yang menilai jika pernyataan Dahnil tersebut tidak menggunakan logika.
Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak saat di konferensi pers BPN Prabowo-Sandi di Media Center BPN, Jakarta, Senin (18/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Lalu bagaimana penjelasan mengenai klaim Jokowi tersebut?
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo, mengatakan bahwa pembangunan jalan desa yang disampaikan Jokowi tersebut memang benar.
ADVERTISEMENT
Menurut dia, jumlah desa di Indonesia saat ini sebanyak 74.957 desa. Seluruh desa tersebut, kata dia, dalam kurun empat tahun terakhir cukup gencar membangun infrastruktur jalan untuk memperbaiki akses.
"191 ribu km dibagi 74 ribu desa, kan 1 desa cuma bangun jalan 2,5 km. Itu dalam 4 tahun. Berarti kalau dalam 1 tahun dibagi rata-rata ya 2,5 km dibagi 4 tahun, ya 625 meter," kata Eko kepada kumparan, Selasa (19/2).
Eko menilai wajar jika banyak yang kaget dengan sudah banyaknya jalan desa yang terbangun. Sebab, pembangunan jalan desa yang dilakukan secara masif baru terjadi sejak adanya dana desa yang digelontorkan dalam APBN.
"Jadi jangan ngeliat 191 ribu km-nya saja. Negara Indonesia ini negara besar, kalau menurut saya capaian ini masih kecil. Justru pentingnya punya knowledge sebelum berbicara, kalau enggak punya knowledge saya jelasinnya juga bingung," ujarnya. 
Mendes PDT Eko Putro Sandjojo. Foto: dok. Kemendes dan PDT
Adapun sejak 2015-2018, total anggaran dana desa yang digelontorkan dalam APBN mencapai Rp 187 triliun. Rinciannya, tahun 2015 senilai Rp 20,76 triliun, tahun 2016 senilai Rp 46,98 triliun dan di tahun 2017 serta 2018 menjadi Rp 60 triliun.
ADVERTISEMENT
Menurut Eko, jalan desa yang dibangun terdiri dari berbagai jenis, mulai dari yang hanya paving block, beton, dan aspal. Namun kata Eko, kebanyakan jalan desa saat ini dibangun berjenis paving block dan beton karena dinilai lebih awet dan banyak menyerap tenaga kerja.
"Aspal itu 60 persen lebih dipakai untuk sewa buldozer, sewa penggiling, itu padat karya, tunainya jadi kecil. Dengan aturan padat karya tunai, orang pada pakai paving block atau beton karena menyerap tenaga kerja banyak. Kan 30 persen harus menyerap tenaga kerja," kata Eko.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan