kumparan
16 Agu 2018 19:17 WIB

Masyarakat Sebatik Masih Gunakan Mata Uang Ganda untuk Jual-Beli

Warga yang tinggal di daerah perbatasan Sebatik-Malaysia masih menggunakan mata uang ganda Ringgit dan Rupiah, Kamis (16/8/18). (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Bank Indonesia (BI) telah meminta kepada masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di daerah perbatasan agar menggunakan mata uang rupiah saat melakukan transaksi jual-beli barang.
ADVERTISEMENT
Bahkan BI tahun 2018 menggencarkan pendistribusian uang rupiah ke pulau terpencil. Salah satunya dengan menggandeng Polairud untuk mendistribusikan uang rupiah ke belasan ribu pulau di perairan RI.
Akan tetapi, di daerah perbatasan dengan Malaysia seperti di pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, masih banyak ditemukan masyarakat yang menggunakan mata uang rupiah dan ringgit saat melakukan transaksi jual-beli barang.
Daerah perbatasan Sebatik-Malaysia, Kamis (16/8/18). (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Salah seorang warga bernama Nur Hiyah (40) memaparkan, penggunaan mata uang ganda ini dikarenakan mereka masih melakukan transaksi jual-beli barang dengan Malaysia sehingga mereka harus menggunakan mata uang ringgit.
"Karena kami beli barang kebutuhan pokok seperti sembako masih dari Malaysia, sehingga kita menggunakan mata uang ringgit. Selain itu, masyarakat juga sudah terbiasa melakukan transaksi menggunakan mata uang ringgit dan rupiah," kata Nur Hiyah di Kampung Sebatik, Nunukan, Kamis (16/8).
Warga yang tinggal di daerah perbatasan Sebatik-Malaysia masih menggunakan mata uang ganda Ringgit dan Rupiah, Kamis (16/8/18). (Foto: Fadjar Hadi/kumparan)
Nur Hiyah menambahkan, penggunaan mata uang ganda ini sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya sehingga masyarakat menganggap penggunaan mata uang ganda di sini merupakan hal biasa.
ADVERTISEMENT
"Jadi kalau ada masyarakat yang beli barang di sini pakai uang rupiah kemudian untuk kembaliannya ingin pakai ringgit, bisa, begitu pula sebaliknya," ucap Nur.
Nur mengaku sudah mengetahui aturan pemerintah mengenai penggunaan mata uang rupiah ini. Namun karena penggunaan mata uang ganda di Sebatik sudah berlangsung secara turun-temurun, ia menilai tidak ada yang salah dengan penggunaan mata uang ganda.
"Sudah lama sekali ini, sejak saya d isini tahun 80-an sudah pakai mata uang rupiah dan ringgit. Tapi sejauh ini peredaran uang ringgit maupun rupiah masih sama (berimbang) di sini," tutupnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan