kumparan
18 Feb 2019 10:48 WIB

Mau Melantai di Bursa Tahun Ini, Bali United Sudah Kirim Surat ke BEI

Para pemain Bali United berkumpul di tengah lapangan Stadion Kapten I Wayan Dipta. Foto: Dok. Liga Indonesia
Salah satu klub sepak bola nasional, Bali United, akan mencari pendanaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menjajaki skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Rencananya klub yang digawangi Irfan Bachdim ini akan melakukan IPO pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
Direktur Utama BEI Inarno Djajadi membenarkan bahwa minggu lalu Bali United telah menyampaikan berkas awal ke direksi BEI. Inarno pun mengapresiasi langkah Bali United untuk mencari pendanaan lewat pasar modal.
“Kalau enggak salah per minggu lalu suratnya sudah ada ke kami, mungkin itu memang dalam proses. Itukan bagus ya kita juga melihat seperti di luar juga kayak Manchester United, rata-rata sudah public company ya dan fans-fansnya bisa ikut partisipasi di situ,” ungkap Inarno di Main Hall BEI, Kawasan SCBD, Jakarta, Senin (18/2).
Inarno pun optimistis Bali United bila merealisasikan rencana tersebut tahun ini. Menurut Inarno, Bali United akan menempuh proses yang sama seperti calon-calon emiten lain.
Para pemain Bali United tengah berlatih. Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Inarno pun tidak melihat adanya kendala dalam proses ini. Memang selama ini, klub sepak bola masuk ke pasar modal baru sebatas rencana. Belum ada klub sepak bola yang benar-benar merealisasikan aksi korporasi tersebut. Menurut Inarno hal tersebut terjadi karena di Indonesia, klub sepak bola belum terbiasa mencari pendanaan di pasar modal. Padahal bagi klub sepak bola dunia, langkah tersebut sudah lumrah terjadi.
ADVERTISEMENT
“Karena belum terbiasa aja. Sepak bola kok go public. Tapi kan dari merchandise, bahkan kalau di luar punya pesawat sendiri,” ujarnya.
Selama ini klub sepak bola selalu urung untuk IPO karena menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku, masih mengakui pemain sepak bola sebagai beban atau pengeluaran. Perhitungan untuk aset non fisik seperti pemain, basis fans, hingga brand, dinilai belum cukup jelas. Artinya isu penghitungan aset masih jadi kendalanya.
Meski demikian, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan saat ini PSAK telah mengakomodasi untuk pencatatan Intangible Asset (asset tak berwujud).
“PSAK kita sudah konvergensi juga dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) sehingga tidak ada issue terkait standar akuntansinya,” tegas Nyoman.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan