kumparan
16 Feb 2019 19:32 WIB

Melihat Langsung Terminal Penyalur BBM di Kalimantan Utara

Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Bahan Bakar Minyak (BBM) telah menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan bagi roda kehidupan masyarakat. Mulai dari transportasi hingga penggerak aktivitas ekonomi sehari-hari.
ADVERTISEMENT
PT Pertamina (Persero) sebagai perusahan pelat merah milik negara bertanggung jawab untuk memastikan suplai BBM itu sampai merata ke tengah-tengah masyarakat. Tak terkecuali daerah 3T (terdepan, terluar, dan terpencil).
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
kumparan, Sabtu (16/2) berkesempatan mengunjungi dan melihat secara langsung salah satu terminal penyalur BBM Pertamina terbesar di Kalimantan Utara (Kaltara) yang berlokasi di kawasan Tarakan. Sementara ada satu lagi terminal lainnya ada di Brau, Kaltara.
Nantinya, BBM yang ada di terminal itu bakal disalurkan ke seluruh kawasan 3T di Kaltara seperti pulau Sebatik, Nunukan, Malinau, Tana Tidung, Tanjung Selor hingga Krayan yang hanya bisa diakses lewat jalur udara.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Memasuki kawasan terminal, tak sembarang orang bisa masuk. Hanya petugas dan pihak yang telah memiliki izin dari Pertamina. Tak hanya itu, seragam pengaman, helm, hingga sepatu lapangan khusus pun harus dipastikan terpakai lengkap. Barang penyebab terjadinya pemantik kebakaran pun haram hukumnya untuk dibawa seperti korek api hingga sekadar telefon genggam. Sehingga, komunikasi hanya dilakukan lewat handy talky.
ADVERTISEMENT
Dari pintu masuk, sejauh mata memandang adalah birunya lautan yang terlihat biru pekat dan mengkilap. Sementara jalan di depan terpancang besi-besi dan pipa-pipa yang seiring sejalan hingga ke arah storage atau penyimpanan serta penyaluran BBM.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Untuk bisa menjangkau lokasi tempat disalurkan ke kapal-kapal itu, setidaknya perlu berjalan ratusan meter hingga nyaris 1 kilometer. Tapak jalan pun tak luas hanya sekitar satu meter dan mesti hati-hati jika tak ingin terpeleset dan terperosok ke perairan.
Di ujung persimpangan, tampak pula petugas-petugas konstruksi yang tengah membangun pancang tambahan untuk bersandar kapal-kapal besar. Jika lancar, pertengahan tahun ini bisa rampung dikerjakan.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Junior Distribution P1 TBBM Tarakan, Ribut membimbing di depan. Ia dengan luwes menerangkan proses penyaluran BBM melalui pipa-pipa hingga diangkut ke kapal yang kemudian menjadi diangkut berhari-hari sebelum sampai akhirnya digunakan masyarakat di kawasan 3T.
ADVERTISEMENT
“Ini dari Balikpapan yang di sana kan supply poin, di di bawa dengan tanker dan dibongkar di sini, P1, P2,P3, penerimaan penimbunan penyaluran. Jadi setelah diterima, dimasukkan dalam tanki ditimbun terus disalurkan melalui jeti,” katanya kepada kumparan, Sabtu (16/2).
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Ribut menyebut, setidaknya ada sampai 12 kapal yang bersandar setiap harinya untuk mengambil BBM. Ukuran dan kapasitasnya kapal itu pun beragam yaitu mulai dari kapal kecil yang hanya bisa menampung 100 kilo liter (KL) hingga kapal besar industri yang bisa memuat 1.500 KL.
“Kebanyakan yang ngisi 100 KL itu APMS (Agen premium, minyak dan solar). Dia retail harganya subsidi. Yang ditanggung sama pemerintah. Kalau yang besar industri pertambangan biasanya,” tambahnya.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Untuk sekali pengisian, Ribut menerangkan, setidaknya membutuhkan waktu normal paling tidak 17 jam. Sementara, pada kapal yang bermuatan 100 KL bisa hanya 1 jam saja.
ADVERTISEMENT
“17 jam itu normal. Belum olah gerak, belum sounding-nya lagi, persiapannya lagi. Kalau antrean kita sudah planning H-1. Enggak bisa setor angkut tidak bisa, kita planning H-1,” paparnya.
Terminal BBM di Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Lebih lanjut, Ribut mengungkap, kapal-kapal yang mengangkut BBM itu kemudian bisa berlayar dalam hitungan jam hingga berhari-hari melewati lautan lepas hingga medan yang tak mudah. Misalnya saja, tujuan Malinau yang membutuhkan setidaknya 3 hari 2 malam dari Tarakan.
Asal tau saja, dari jalur laut untuk pengangkutan Ke Malinau itu, masih harus menempuh perjalanan yang tak sebentar. Pengangkutan perlu dilanjutkan menggunakan Mobil Tangki ke Pelabuhan Melak dari Terminal BBM Samarinda lebih kurang 8 jam perjalanan.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan, Sabtu (16/2). Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Kemudian, dipindahkan ke Landing Craft Tank (LCT) menuju Desa Long Bagun sekitar 4 jam perjalanan. Tak berhenti di situ, pengiriman BBM lalu dilanjutkan hingga desa Long Bagun dengan mobil double gardan sebanyak 10 unit yang masing-masing membawa BBM sekitar 1.000 liter (5 drum).
ADVERTISEMENT
“Ada lagi, Krayan yang juga mesti menempuh lewat jalur udara atau pesawat. BBM nya ngambil mobil tanki di-loading ke pesawat di bandara. Sampai ke Krayan. Terus untuk proses suplai yang biasa pengisian di sini, macam premium kan kita kapasitasnya dari SR (sales representative),” kata dia.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Untuk kapal pengangkut itu, ia menekankan tidak bisa sembarang. Pasalnya, kapal itu memang disiapkan khusus dan terverifikasi sesuai standar.
“Kapalnya harus PSA (Pertamina Service Approval). Itu dari marine pusat yang meriksa masing-masing kapal. Jangka waktunya ada yang 6 bulan dan juga ada yang setahun juga. Itu harus diulang kembali, mereka harus pengajuan ke pusat,” ujar dia.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Di sisi lain, kapal itu juga masih melewati berbagai tahap pemeriksaan yang ketat dari dan sebelum berlayar untuk mengangkut BBM ke 3T.
ADVERTISEMENT
“Pada proses sandar di sini mereka harus ada akan diperiksa oleh pihak marine. Untuk tes pengujian pemadamnya semua di cek dari marine. Kalau salah satu enggak lengkap mereka enggak bisa ngisi,” kata dia.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Operation Head TBBM Tarakan Kalimantan Utara Selamat Mingko menambahkan, selama proses penyaluran hingga pengangkutan itu juga harus dilakukan secara teliti dan hati-hati. Jika tidak, BBM bisa bocor dan berdampak pada pencemaran lingkungan.
“Kita memang yang namanya pencemaran sangat-sangat kita khawatirkan sehingga sarpras kita itu kita pelihara jangan sampai ada tumpahan. Apabila ada itu proper itu dicabut izin dikeluarkan KLHK. Sampai sekarang sih, Alhamdulilah belum pernah,” tuturnya.
Pekerja sedang beraktivitas di Terminal BBM Tarakan. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Untuk volume penyaluran rata-rata sepanjang tahun 2018 lalu, Selamat mengatakan, terminal BBM pertamina di Tarakan ini bisa menyuplai total sebanyak 521.822 KL. Secara rinci yaitu Premium 77.939 KL, Pertalite 13.777 KL, Pertamax 4.654 KL, Biosolar 71.403 KL, Solar 333.559 KL, Dexlite 563 KL, Kerosin 3.896 KL, dan Avtur 16.028 KL.
ADVERTISEMENT
“Karena kita bukan perusahaan swasta jadi kita tidak ada target ya, sesuai penugasan saja. Tapi jumlah itu sudah cukup memadai bagi masyarakat Kaltara,” pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan