Pencarian populer

Melihat Proyeksi Lifting dan Kebutuhan Gas RI hingga 2027

Kargo LNG domestik perdana 2018 (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Saat ini Indonesia memiliki cadangan gas bumi sebesar 1,5% dunia, yaitu 142,72 TSCF. Rata-rata produksi gas bumi Indonesia selama 5 tahun terakhir sebesar 7.997 MMSCFD.

Dalam buku Neraca Gas Bumi Indonesia (NGI) 2018-2027 yang diluncurkan Kementerian ESDM menyebutkan, tren produksi selama 5 tahun terakhir menunjukan penurunan dari 8.130 MMSCFD di tahun 2013 menjadi 7.620 MMSCFD di tahun 2017.

Dari produksi gas bumi tersebut, terdapat 8 persen losses yang berupa impuritis, gas suar bakar, dan pengunaan sendiri sehingga realisasi lifting pada tahun 2017 sebesar 6.607,65 MMSCFD.

“Dari lifting gas bumi tersebut, 58,59 persen dimanfaatkan untuk domestik dan 41,41 persen diekspor. Di level domestik, PLN menjadi salah satu konsumen gas dengan pemakaian sebanyak 25 persen,” kata Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar kemarin di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (1/10).

Lalu seperti apa perkiraan pasokan dan kebutuhan gas bumi Indonesia hingga 10 tahun mendatang?

Masih dalam buku NGI 2018-2027 disebutkan, proyeksi lifting gas bumi 10 tahun ke depan akan mengalami fluktuasi yaitu sebesar 7.452 MMSCFD di tahun 2018 dan mencapai puncaknya di tahun 2022 sebesar 8.661 MMSCFD. Pasokan ini diproyeksikan mengalami penurunan menjadi 8.048 MMSCFD di tahun 2027.

Arcandra mengatakan, proyeksi tersebut dapat dicapai dengan kondisi terealisasinya beberapa proyek gas bumi seperti:

a. Lapangan Alur Siwah, Rambong dan Iulu Rayeu (Medco Blok A) pada tahun 2018, b. Lapangan MDA & MBH, serta MDK (HCML), Jambaran-Tiung Biru, Lapangan Badik dan West Badik (PHE Nunukan) pada tahun 2019, c. BP Berau Expansion (LNG Train 3) pada tahun 2020, d. Lapangan Merakes (ENI East Sepinggan) dan Asap Kido Merah (Genting Oil) pada tahun 2021, e. Lapangan Gendalo, Gandang dan Gehem (IDD Project) pada tahun 2022, f. Lapangan Abadi (INPEX Masela) pada tahun 2027, g. East Natuna di tahun 2027.

Komitmen ekspor LNG yang akan berakhir dialokasikan oleh pemerintah untuk kebutuhan domestik. Komitmen LNG 1973 dan 1981 (Western Buyers Extention) akan berakhir di 2020 sehingga dapat menambah pasokan gas di Region 5 yang nantinya dapat digunakan untuk komitmen LNG antar region.

Komitmen ekspor LNG Tangguh akan berakhir di tahun 2020 dan 2022 sehingga LNG Tangguh dapat digunakan untuk memperkuat pasokan LNG domestik. Apabila domestik tidak dapat menyerap maka dapat dikomersialisasikan sebagai spot cargo LNG.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar Meluncurkan Neraca Gas Bumi Indonesia 2018-2027 di Kementerian ESDM, Jakarta. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)

Dengan berakhirnya komitmen ekspor gas pipa dari Blok Corridor pada tahun 2023 dapat menjadi tambahan pasokan gas untuk domestik di Region II yang berada di wilayah Sumatera bagian tengah, Sumatera bagian selatan, Kepulauan Riau, dan Jawa bagian barat.

Atas proyeksi pasokan gas bumi 10 tahun ke depan ini, Kementerian ESDM membuat tiga skenario untuk melihat kapan kemungkinan Indonesia akan menjadi importir gas. Salah satu metodologinya adalah berdasarkan perhitungan permintaan gas bumi dalam kurun waktu 2018-2027.

Seperti yang sudah kumparan ulas, pada Skenario I, diproyeksikan pada 2027 nanti Indonesia belum kekurangan pasokan gas bumi (shortage). Pada Skenario II, 2025 Indonesia diperkirakan mulai kekurangan pasokan gas bumi. Lalu, pada Skenario III, 2025 Indonesia diperkirakan mulai kekurangan gas bumi secara nasional.

Arcandra menjelaskan, perkiraan kekurangan gas (shortage) saat itu berdasarkan skenario II yang Kementerian ESDM rancang. Dalam skenario itu, kekurangan pasokan gas bumi di karena serapannya maksimal dengan pertumbuhan listrik 5,5 persen sesuai asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tapi dia menegaskan, saat defisit itu tiba, tidak semua region kekurangan gas. Kementerian ESDM sendiri membagi region menjadi 6 bagian yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan wilayah dari Sabang sampai Merauke.

LNG (Foto: Wikimedia Commons)

Menghadapi kondisi itu, Arcandra menuturkan pihaknya telah menyiapkan cara. Salah satunya dengan mentransfer gas bumi dari region lain yang tidak defisit. Karena itu, dia menuturkan kekurangan gas bumi pada 2025 mendatang tidak bisa dipukul rata.

"Nah ini perlu saya koreksi kembali tergantung regionnya. Tidak semua region shortage. Dan yang shortage, misal di region III, dengan menyambung pipa antara Gresik-Semarang, maka suplai akan berasal dari Surabaya dan sekitarnya ini jadi tidak shortage lagi," jelas dia.

Transfer pasokan gas ke region yang defisit saja tidak cukup. Untuk menutupi kebutugan pasokan gas, perlu dibangun infrastuktur untuk penyaluran gas.

“Kalau hanya disuplai daerah lain tapi infrastruktur tidak dibangun sama saja. Tadi dikatakan, ini seperti telur dan ayam, infrastruktur atau demand dulu. Kalau bisa dua-duanya. Berdasarkan suplai yang ada, kita lihat potensi demand seperti apa kemudian dibangun," katanya.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.55