kumparan
4 Jun 2018 18:35 WIB

Menperin: Elektronik adalah Industri yang Paling Cepat Bertransformasi

Kunjungan Airlangga Hartarto ke Pabrik Polytron. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Industri elektronik dianggap sebagai industri yang paling cepat berkembang. Selain itu, industri elektronik dikenal juga sebagai industri yang paling sukses dalam membangun rantai pasokan di seluruh dunia.
ADVERTISEMENT
Hal ini diungkapkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela-sela kunjungannya ke pabrik Polytron di Kudus, Jawa Tengah. Pada kesempatan tersebut, Airlangga sempat memuji Polytron yang masih eksis dalam menciptakan produk-produk elektronik terbaru dan mempekerjakan 1.000 orang tenaga kerja lokal.
"Pemerintah apresiasi (Polytron) banyak gunakan tenaga kerja dan tentunya yang menjadi andalan dari program yang dilaunch oleh Presiden (Joko Widodo) adalah 4.0. Intinya ada di elektronik, internet of things dan elektronik ini akan menjadi leading sector untuk percontohan 4.0. Industri itu sifatnya tidak disrupsi tapi transformasi, nah itu ada di elektronik, salah satu yang paling cepat,” ungkap Airlangga di Kudus, Jawa Tengah, Senin (4/6).
Kunjungan Airlangga Hartarto ke Pabrik Polytron. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Menurut Airlangga, salah satu kunci Polytron bisa bertahan sampai sekarang adalah mereka mampu bertransformasi dengan melakukan riset. Dia menganggap Polytron memiliki tim Research and Development (R&D) yang handal. Yang spesial adalah proses R&D dilakukan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Polytron jadi salah satu pioner R&D di industri elektronik. Elektronik yang cepat bergerak yang dulu ada sekarang sudah ada. Misalnya VCD atau DVD ini pun akan hilang dengan live streaming. Tentu sektor ini harus punya kekuatan untuk bertahan, punya R&D ini yang kita apresiasi. Ini potensi yang besar dan harus kita dukung,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Direktur R&D PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) Adi Susanto menambahkan R&D sudah dibangun perusahaan sejak tahun 1982 lalu. Selama itu pula, berbagai ide telah tercipta dan menjadi produk jadi Polytron yang sudah dikonsumsi masyarakat global.
“Ini riset dan pengembangan. (Hasilnya) bisa kita patenkan. Ada 60 hak paten. Dari riset ini bisa kita kembangkan untuk produk jadi. Dari R&D ke barang jadi kontribusi sekitar 10%,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan