kumparan
24 Agu 2019 11:44 WIB

OJK: Investasi Reksa Dana Capai Rp 541,9 Triliun per Agustus 2019

Investasi untuk perempuan. Foto: Shutterstock
Masyarakat kini mulai melek investasi. Hal ini tercermin dari investasi di reksa dana yang terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total jumlah investasi di reksa dana mencapai Rp 541,87 triliun sejak awal tahun ini hingga 22 Agustus 2019. Angka ini bahkan lebih besar dibandingkan jumlah keseluruhan investasi reksa dana selama tahun lalu yang hanya Rp 505,39 triliun.
Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto mengatakan, investasi di reksa dana tersebut terdiri dari berbagai jenis investasi, mulai dari reksa dana saham, pasar uang, pendapatan tetap, terproteksi, hingga reksa dana syariah. Adapun dari total jumlah investasi reksa dana tersebut, masih didominasi jenis reksa dana saham sebesar Rp 140,09 triliun.
"Kalau kita lihat memang setiap tahunnya terus naik. Selama 2014 sampai Desember itu totalnya Rp 241,46 triliun. Kalau tahun ini per 22 Agustus ini sudah Rp 541,9 triliun," ujar Sujanto dalam seminar reksa dana di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (24/8).
Ilustrasi investasi Foto: Stevepb via Pixabay
Dia melanjutkan, peningkatan investasi di reksa dana tersebut juga disebabkan oleh kemudahan yang ditawarkan berbagai manajer investasi. Bahkan saat ini, masyarakat bisa membeli reksa dana secara online.
ADVERTISEMENT
"Sampai saat ini ada 51 platform online yang menjual reksa dana, tambah kemarin satu platform, jadi total ada 52 platform yang menjual.produk reksa dana secara online," jelasnya.
Tak hanya kemudahannya, Sujanto bilang, nominal investasi untuk reksa dana juga bisa dimulai dari Rp 100.000. Ini lah yang membuat instrumen investasi ini makin digemari masyarakat, bahkan hingga generasi milenial.
"Sekarang Rp 100.000 bisa. Jadi bisa lebih murah. Anak muda makin menggemari reksa dana," kata dia.
Ke depan, investasi reksa dana juga diperkirakan akan tetap digandrungi maayarakat. Apalagi risiko di reksa dana cenderung lebih rendah dibandingkan investasi di instrumen lainnya di tengah ketidakpastian kondisi global.
"Masih sangat digandrungi masyarakat. Kalau kita lihat, risikonya juga lebih rendah di reksa dana pasar uang. Harapannya makin banyak masyarakat yang berinvestasi," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan