kumparan
26 Jul 2018 21:09 WIB

Pemerintah Pertimbangkan Beri Tax Holiday Hingga 50 Tahun

Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
Pemerintah mengaku terus berusaha menggenjot inevstasi dengan mengundanng investor agar menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satu yang akan dikaji adalah perpanjangan waktu pemberian insentif fiskal berupa tax holiday.
ADVERTISEMENT
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Presiden Jokowi sudah memerintahkan dia untuk menguji apabila tax holiday diperpanjang hingga 50 tahun.
"Presiden meminta saya sebagai Menteri Keuangan menguji apabila tax holiday diperpanjang sampai 50 tahun, tapi pada limited time. Sehingga bisa betul-betul mengundang investor menanamkan modalnya di Indonesia," kata Sri Mulyani di Istana Bogor, Kamis (26/7).
Menurut Sri Mulyani, pemberian tax holiday saat ini sudah cukup menarik bagi investor. Hal itu disampaikan oleh pengusaha Rachmat Gobel yang ikut dalam pertemuan dengan para pengusaha di Istana Bogor.
"Tadi salah satu dari Pak Rachmat Gobel menyampaikan bahwa insentif tax holiday sudah cukup menarik untuk investor, sampai level 300 miliar sehingga mereka sekarang sudah masuk ke Indonesia," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Pemberian insentif untuk mengundang investor tersebut, kata Sri Mulyani, juga agar kinerja ekspor Indonesia bisa digenjot dan untuk mendatangkan devisa.
"Kami akan menjemput menyiapkan tax holiday untuk ukuran kecil jumlahnya dibawah 100 miliar dan label intensif. Sehingga itu menampung kebutuhan perusahaan-perusahaan kelas menengah kecil yang akan impor di Indonesia, terutama untuk status dari impor kita," ujarnya.
Ditanya apakah pemberian insentif tax holiday hingga 50 tahun tidak terlalu lama, Sri Mulyani mengatakan langkah tersebut diharapkan Presiden Jokowi untuk memperkuat industrialisasi di Indonesia.
"Katakanlah struktur Indonesia dan ekspor itu harus diperbaiki. Presiden telah menyampaikan ini adalah niat Presiden dan komitmen pemerintah itu sangat bulat mengenai keinginan mendorong ekspor dan investasi," katanya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan