kumparan
11 Sep 2019 11:40 WIB

Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Melambat 3,6 Persen di Kuartal II 2019

Sejumlah pekerja mengenakan alat pelindung diri (APD) saat membersihkan kaca sebuah gedung. Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan total pendapatan premi asuransi jiwa di kuartal II 2019 sebesar Rp 90,25 triliun. Angka ini melambat 3,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) yang sebesar Rp 93,58 triliun.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon mengatakan, total pendapatan premi asuransi jiwa di kuartal II 2019 tersebut masih memiliki kontribusi terbesar terhadap total pendapatan asuransi jiwa di kuartal II 2019 yang mencapai 76,3 persen.
Budi menyampaikan, total pendapatan industri asuransi jiwa Indonesia pada kuartal II 2019 sebesar Rp 118,32 triliun. Pencapaian ini naik 31,9 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 89,73 triliun.
”Pada kuartal II 2019, AAJI mencatat total pendapatan dan manfaat yang dibayarkan serta jumlah agen berlisensi di industri asuransi jiwa mengalami pertumbuhan, meski total pendapatan premi mengalami perlambatan," ujar Budi di Kantor AAJI, Jakarta, Rabu (11/9).
Dia melanjutkan, sebesar 60,5 persen dari total premi asuransi jiwa tersebut merupakan kontribusi dari premi bisnis baru, yakni Rp 54,7 triliun atau mengalami perlambatan 8,8 persen (yoy). Sementara 39,5 persennya merupakan kontribusi dari premi lanjutan sebesar Rp 35,68 triliun, meningkat 5,8 persen (yoy).
com-Ilustrasi keluarga mengajukan asuransi kesehatan. Foto: Shutterstock
Perlambatan premi bisnis baru tersebut dipengaruhi oleh melambatnya kinerja saluran distribusi bancassurance sebesar 16,8 persen (yoy) dan saluran keagenan sebesar 8,6 persen (yoy). Adapun masing-masing saluran distribusi tersebut berkontribusi sebesar 50,8 persen dan 27,5 persen terhadap total premi bisnis baru.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pendapatan premi bisnis baru yang berasal dari produk asuransi kesehatan memiliki kontribusi sebesar 5,9 persen dari keseluruhan total pendapatan premi bisnis baru. Hal ini menunjukkan bahwa produk asuransi kesehatan tetap menjadi produk yang diminati oleh masyarakat Indonesia.
Total pendapatan industri asuransi jiwa juga dipengaruhi oleh hasil investasi, yang meningkat 373,4 persen (yoy) menjadi Rp 22,84 triliun. Perbaikan kinerja hasil investasi asuransi jiwa juga dipengaruhi oleh kondisi pasar modal yang menguat, yaitu adanya penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2019.
Sementara total aset kuartal II 2019 meningkat 10,1 persen (yoy) menjadi Rp 550,38 triliun. Secara rata-rata dalam tiga tahun terakhir, total aset perusahaan asuransi jiwa mengalami pertumbuhan sebesar 5,6 persen.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan