Kumparan Logo

Periode Suram Industri Rokok Kretek Tangan RI

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Bea Cukai dan Industri Rokok (Foto: Dok. Bea cukai)
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Bea Cukai dan Industri Rokok (Foto: Dok. Bea cukai)

Industri rokok khususnya Sigaret Kretek Tangan (SKT) tengah mengalami masa suram. Fakta yang berkembang di lapangan adalah banyaknya pabrik produksi yang tutup serta karyawan yang dipecat.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PP FSP RTMM-SPSI) Sudarto mengungkapkan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi kinerja industri rokok kretek tangan. Selain semakin kompetitifnya persaingan di pasar terutama dengan Sigaret Kretek Mesin (SKM), faktor lain adalah ketatnya regulasi pemerintah yang mengatur rokok. Misalnya kenaikan tarif cukai, iklan bahaya merokok, gambar seram, sampai pembatasan tempat merokok.

Pegawai pabrik rokok melakukan produksi manual. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)
zoom-in-whitePerbesar
Pegawai pabrik rokok melakukan produksi manual. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat)

"Sehingga sekarang ini rokok bukan lagi menjadi pilihan (untuk dikonsumsi)," kata dia kepada kumparan, Sabtu (28/7).

Dia mendata jumlah pabrik rokok kretek tangan skala besar dan kecil banyak yang sudah tutup produksi. Pada 2007 tercatat Industri Hasil Tembakau (IHT) berjumlah 4.793 unit. Angka ini berkurang drastis pada 2016 atau 10 tahun kemudian menjadi hanya 1.664 unit saja.

Imbasnya tentu saja pengurangan tenaga kerja. Pada 2010 lalu tercatat, jumlah pekerja yang tergabung dalam organisasi PP FSP RTMM-SPSI sebanyak 235.240 orang. Lima tahun kemudian atau pada 2015, turun menjadi 209.320. Penurunan terus terjadi pada 2017 lalu yakni menjadi 178.624. Itu artinya, selama 8 tahun terakhir, pekerja rokok yang kehilangan pekerjaan sebanyak 56.616 orang.

"SKT ini pembentuk lapangan kerja karena unitnya padat karya," imbuhnya.

Dia menganggap berbagai kebijakan pemerintah saat ini memang tidak ramah kepada industri rokok. Dengan berbagai alasan, pemerintah mendorong penurunan konsumsi rokok khususnya rokok kretek tangan.

"Sekarang karyawan ini mau bekerja di mana. Negara harus hadir," sebutnya.