kumparan
6 Des 2018 17:26 WIB

Peritel Sesalkan Pasar Indonesia Dibanjiri Produk China

CEO Sale Stock Indonesia Lingga Madu. (Foto: Selfy Sandra Momongan/kumparan)
Industri fesyen tak pernah sepi peminat. Kebutuhan masyarakat akan sandang tampaknya membuat pelaku usaha berlomba-lomba menciptakan dan menyediakan produk berkualitas dengan harga murah. Sayangnya, beberapa produk fashion dengan harga miring tersebut justru didatangkan dari luar negeri misalnya, China.
ADVERTISEMENT
Melihat tren impor produk fesyen tersebut, CEO Sale Stock Indonesia Lingga Madu mengaku cukup menyesalkan. Sebab, menurutnya, produk dalam negeri pun punya harga miring tapi tetap dengan kualitas baik.
“Kami enggak beli produk China. Enggak itu. Kami bekerja sama dengan puluhan manufaktur lokal. UMKM gitu. Dan tetap ada kualitas,” ungkap Lingga kepada kumparan di Wild Digital Indonesia Conference 2018, Jakarta, Kamis (6/12).
Obral Produk Baju Batik di Mall Thamrin City, Jakarta, Selasa (2/10/2018). (Foto: Abdul Latif/kumparan)
Itulah sebabnya, di Sale Stock Indonesia, produk-produk fesyen dijual dengan range harga Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu. Padahal menurut Lingga, baju dengan harga di kisaran tersebut biasanya identik dengan kualitas yang rendah. Namun Lingga mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan produk fesyen murah namun tetap berkualitas.
ADVERTISEMENT
“Kalau bicara baju dengan harga Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu itu notabene baju Tanah Abang, baju pasar yang enggak ada quality control-nya. Size-nya juga berantakan. Katunnya jelek. Tapi di kami enggak, semuanya memenuhi quality control,” sambungnya.
Tak hanya kualitas, Lingga juga mengklaim, produk-produk di Sale Stock selalu up to date dengan tren fesyen yang tengah berkembang. Faktor inilah yang membuat Sale Stock menurutnya digemari oleh masyarakat Indonesia. Bahkan selain itu, pihaknya juga membuka kesempatan bagi UMKM untuk bergabung menjadi partner Sale Stock. Tak lain, tujuannya adalah untuk mendorong merek lokal.
“Insyaallah UMKM bisa kerja sama dengan kami. Nanti ngobrol dulu mungkin kami ingin lihat produksinya gimana, complexity yang bisa dia handle seperti apa. Dan ada target setiap bulan bisa produksi berapa, karena kami pengen pasar yang efisien,” tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan