kumparan
11 Jul 2018 14:40 WIB

Pertamina Berupaya Tahan Penurunan Produksi Migas Blok Mahakam

Lapangan Senipah, Peciko & SPS Kutai Kartanegara (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)
Sejak 1 Januari 2018 lalu PT Pertamina (Persero) resmi mengelola Blok Mahakam. Sebelumnya, ladang gas ini dikelola selama 50 tahun oleh perusahaan migas raksasa asal Prancis, Total E&P Indonesie.
ADVERTISEMENT
Hingga 31 Mei 2018, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) mencatat produksi di Blok Mahakam sekitar 932,7 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka ini turun 31% jika dibandingkan dengan produksi gas Blok Mahakam pada 2017 yang sebesar sebesar 1.360 MMSCFD saat masih dipegang Total.
Sedangkan produksi minyak Blok Mahakam per 31 Mei 2018 adalah 44.638 Barrel Oil Per Day (BOPD) atau turun 14,1% dibanding produksi di 2017 yang mencapai 52.000 BOPD.
Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam. (Foto: Ema Fitriyani/kumparan)
Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, mengakui bahwa produksi migas Blok Mahakam tak sesuai harapan. Ia menjelaskan, Blok Mahakam memang sedang dalam fase penurunan produksi alamiah (decline). Pertamina kini sedang membuat program untuk menahan laju penurunan produksi tersebut.
ADVERTISEMENT
"Ya, memang masih below target. Lapangan di Mahakam kita lihatnya enggak bisa sepotong-potong juga. Ini kan fasenya decline terus. Ini kita buat program untuk mengurangi decline. Program kita itu lebih tinggi daripada program eksisting kemarin. Nah, bahwa itu belum mencapai target selama satu tahun, kita memang harus ada effort. Kan masih ada enam bulan lagi," kata Alam saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (11/7).
Ia menambahkan, produksi migas juga menurun karena beberapa sumur sementara dimatikan. Sebab, Pertamina sedang melakukan pengeboran sumur-sumur baru, beberapa sumur harus dimatikan karena terhubung dengan sumur yang sedang dibor.
"Kemarin pas kita melakukan pengeboran, beberapa sumur harus dimatikan karena sumurnya nyambung dan ada masalah safety," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Sebelumnya diberitakan, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher, menjelaskan bahwa program-program yang dijalankan Pertamina pada saat masa alih kelola Blok Mahakam masih berjalan dan belum memperoleh hasil yang signifikan.
"Untuk PHM (Pertamina Hulu Mahakam) ketika melakukan eksekusi program pada masa transisi belum selesai. Apa yang direncanakan pada masa transisi masih butuh waktu sehingga lifting belum memenuhi ekspektasi," ujarnya.
Selain itu, faktor-faktor lain yang menyebabkan produksi migas Blok Mahakam di bawah target adalah kerusakan fasilitas dan kendala-kendala teknis di lapangan. "Terkait produksi Blok Mahakam kendalanya kombinasi, ada juga kendala fasilitas, operasi di lapangan seperti ada mesin rusak atau pipa perlu diperbaiki," katanya.
Penurunan produksi gas dari Blok Mahakam sejauh ini belum berdampak pada pasokan gas untuk Kilang LNG Bontang. Sebab, pada saat yang sama ada kenaikan pasokan gas dari Lapangan Jangkrik yang dikelola Eni. "Kalau kita bicara optimalisasi Kilang LNG Bontang, memang dari Mahakam turun tapi ada peningkatan dari Jangkrik. Sampai saat ini belum ada keluhan dari pembeli," pungkasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan