kumparan
20 Feb 2019 21:35 WIB

PLN Turunkan Target Pertumbuhan Rata-rata Konsumsi Listrik

Menteri ESDM, Ignasius Jonan membahas RUPTL 2019 bersama Dirjen Ketenagalistrikan, Rida Mulyana (kedua kiri) dan Direksi PT PLN di Kementerian ESDM, Jakarta. Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengesahkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028 yang telah disusun PT PLN (Persero). Dalam dokumen tersebut, perusahaan menurunkan target rata-rata pertumbuhan konsumsi listrik dalam 10 tahun ke depan menjadi 6,42 persen.
ADVERTISEMENT
Penurunan target konsumsi listrik ini sebesar 0,44 persen dari proyeksi tahun lalu dalam RUPTL 2018-2027 yang dipatok sebesar 6,86 persen. Tapi Jonan tidak menjelaskan turunnya target tersebut.
"Kami mau mengumumkan RUPTL 2019-2028. Proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik kami proyeksikan rata-rata 6-7 persen. Pasnya itu 6,42 persen kurang lebih setiap tahun," kata dia dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (20/2).
Selain proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik yang turun, total rencana pembangunan jaringan transmisi menjadi 57 ribu kms dibandingkan RUPTL 2018-2027 sebesar 63 ribu kms.
Lalu, total rencana pembangunan gardu induk juga turun menjadi 124 MVA dari sebelumnya 151 MVA. Total rencana pembangunan jairngan distribusi turun menjadi 472 ribu kms dari sebelumnya 526 ribu kms.
ADVERTISEMENT
Begitupun dengan total rencana pembangunan gardu distribusi yang turun menjadi 33 ribu MVA dari sebelumnya 50 ribu MVA.
"Ini agak turun sih, memang kita sesuaikan dengan kebutuhan. Yang penting rasio elektrifikasi terpenuhi," lanjut Jonan.
Pekerja memasang jaringan kabel ke tower milik PT PLN Persero yang akan dialiri listrik dari PLTU IPP 3 Kendari. Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Meski begitu, kata dia, ada peningkatan dalam rencana pembangunan pembangkit. Jonan menyebutkan, selama 10 tahun ke depan, pembangkit yang dibangun 56,4 Giga Watt (GW) dari RUPTL 2018-2027 sebesar 56,02 GW dengan catatan porsi batu bara dalam pembangkit tetap yang paling besar.
Dalam RUPTL 2019-2028, porsi batu bara sebesar 54,6 persen, naik 0,2 persen dari RUPTL 2018-2027 sebesar 54,4 persen.
Untuk bauran energi dalam pembangkit listrik juga ada peningkatan. Jonan merinci, setelah 2025, porsi EBT menjadi 23 persen, dan BBM 0,4 persen.
ADVERTISEMENT
Dalam RUPTL 2018-2027 sebenarnya porsi BBM ditarget sama sebesar 0,4 persen tapi realisasinya hingga saat ini 4-5 persen. Sementara itu, untuk porsi gas, dalam data Kementerian ESDM justru turun tipis 0,2 persen dari 22,2 persen menjadi 22 persen.
"Sekarang kan porsi BBM 4-5 persen. Ini penting sekali bahwa kalau PLTD dari PLN jadi pakai BBN (Bahan Bakar Nabati)," kata dia.
Jonan mengungkapkan, tahun ini pemerintah memfokuskan pada pembangkit listrik dari energi alternatif seperti EBT.
Untuk menggenjotnya, dia membebaskan proyek pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028. Setiap proyek EBT yang diusulkan pengusaha tahun ini, kata dia, bisa dilakukan tanpa perlu menunggu RUPTL yang baru.
Petugas mengerjakan pekerjaan jaringan listrik, Sulawesi Tengah, Kamis (30/8). Foto: ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah
Aturan ini, kata Jonan, dilakukan agar proyek pembangkit EBT bisa berjalan cepat. Dengan begitu, Indonesia mengejar target bauran EBT sebesar 23 persen hingga 2025.
ADVERTISEMENT
"Dalam keputusan pemerintah juga disebutkan bahwa tambahan dan pembangkit listrik EBT itu tidak memerlukan lagi perencanaan RUPTL. Bisa inisiatif langsung, tergantung kebutuhan dan jaringan setempat yang memadai," kata dia.
Selain proyek pembangkit EBT, pembangkit yang menggunakan gas juga tidak perlu masuk RUPTL tahun ini, tapi khusus untuk yang kapasitasnya kecil yakni 10 Mega Watt (MW). Proyek pembangkit yang menggunakan gas sebagai bahan baku listrik adalah PLTG, PLTGU, dan PLTMG.
Penggunaan gas didorong untuk pembangkit untuk mengurangi emisi karbon. Selain itu, gas juga bisa masuk ke daerah-daerah kecil yang tidak perlu repot mengalirkannya seperti membawa batu bara untuk PLTU.
"Terutama wilayah yang ekonomis tenaga gas yang kecil-kecil di Indonesia Timur dan Indonesia Tengah, kalau cuma 5 MW itu enggak efektif pakai batu bara tapi pakai gas yang bisa (disalurkan) dengan iso tank," ucapnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan