kumparan
10 Agu 2018 14:05 WIB

Plus Minus Jokowi-Ma'ruf Vs Prabowo-Sandi di Mata Ekonom

Capres dan Cawapres di Pilpres 2019. (Foto: Antara dan kumparan)
Pada Kamis (9/8) kemarin, dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), yakni Joko Widodo dengan Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno mendeklarasikan keikutsertaannya pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tahun depan. Hal ini sontak mengundang banyak pertanyaan, termasuk kapabilitas ekonomi kedua pasangan bakal calon pemimpin negara nantinya.
ADVERTISEMENT
Pakar Ekonomi untuk sektor properti dari Indonesia Property Watch, Ali Tranghada, mengatakan bahwa pemimpin tertinggi negara dirasa perlu memiliki pengetahuan yang mumpuni di bidang ekonomi. Sebab, di tangan para pemimpin, beberapa kebijakan strategis ekonomi ditentukan.
“Misalnya itu pembangunan rumah yang diperuntukkan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) masih minim,” ungkap Ali kepada kumparan, Jumat (10/8).
Sementara itu, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas, Kevin Juido, mengatakan dua pasangan wakil presiden ini memiliki fokus dan latar belakang pengalaman ekonomi yang berbeda.
Rusun Rawa Bebek (Foto: Iqbal Dwiharianto/kumparan)
“Pak Ma’ruf itu lebih cenderung ke ekonomi syariah karena dia banyak pengalaman sebagai ketua perbankan syariah. Jadi, kemungkinan kalau beliau yang menang maka ekonomi syariah bakal mungkin bergeliat,” kata Kevin.
Untuk cawapres Sandiaga, dipandang sudah memiliki latar belakang bisnis yang kuat. Ini memudahkan pasangan Prabowo dan Sandiaga nantinya dalam mengatur dunia usaha.
ADVERTISEMENT
“Mereka punya latar belakang yang berbeda. Pak Sandi, karena memang sebelumnya dia pebisnis maka akan mudah nantinya bagi beliau untuk menetapkan kebijakan dan langkah tepat bagi iklim bisnis di Indonesia,” tambahnya.
Namun, Kevin mengatakan, meski memiliki kemampuan dan latar belakang di bidang ekonomi, fokus dan program perekonomian kedua pasangan capres dan cawapres ini ditentukan dari menteri-menteri terkait yang akan ditunjuk.
“Seperti menteri keuangan dan menteri perekonomian. Itu nanti kan mereka yang akan membawa kemana arah kebijakan ekonomi kita ke depan. Jadi kita masih harus menunggu nih kira-kira siapa yang akan digandeng oleh para calon tadi sebagai menteri. Untuk sekarang masih sangat prematur untuk melihat arah program ekonomi kedua pasangan,” tutupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan