kumparan
3 Mei 2018 16:20 WIB

Produksi Minyak Lapangan Banyu Urip Digenjot Hingga 220.000 Barel/Hari

Lapangan Banyu Urip. (Foto: Dok. Exxon Mobil)
Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu adalah penghasil minyak bumi terbesar kedua di Indonesia setelah Blok Rokan. Ladang minyak yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini produksi minyaknya sekarang sudah mencapai 210.000 barel per hari (bph), lebih dari seperempat dari produksi nasional.
ADVERTISEMENT
ExxonMobil, operator Blok Cepu, menyatakan akan meningkatkan lagi produksi minyak Lapangan Banyu Urip hingga 220.000 bph.
"Di Banyu Urip sekarang produksinya lebih dari 210.000 bph. Mudah-mudahan lancar, kita bisa produksi sampai 220.000 bph," kata VP Public & Government Affairs ExxonMobil Indonesia, Erwin Maryoto, saat ditemui di IPA Convex 2018, Jakarta, Kamis (3/5).
Dia juga menegaskan, peningkatan produksi hingga 220.000 bph ini masih aman, tak mengandung risiko besar. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah dilakukan.
"AMDAL-nya sudah memungkinkan untuk itu. Kita ikuti saja 220.000 bph," ujarnya.
Selain itu, meski produksinya dinaikkan, masa produksi Blok Cepu tak akan berkurang. Sebab, ada cadangan minyak baru di Blok Cepu. Erwin mengungkapkan bahwa ada penemuan cadangan minyak baru setidaknya 100 juta barel.
ADVERTISEMENT
Cadangan minyak Blok Cepu yang tercatat saat ini 450 juta barel. Berdasarkan temuan ExxonMobil yang telah disetujui SKK Migas, Erwin menyebut ada setidaknya 550 juta barel di Blok Cepu. Ini adalah cadangan terbukti (proven reserve) yang berstatus P1. Jadi untuk cadangan terbukti ada tambahan 100 juta barel.
Selain cadangan yang berstatus P1, masih ada ratusan juta barel lagi yang berstatus P2 atau masih potensi. Cadangan minyak Blok Cepu bisa mencapai 729 juta barel.
"Ternyata cadangannya 729 juta barel yang saat ini di-discover. Sekarang kita masih lakukan studi di sekitar Banyu Urip itu dan kita evaluasi lebih lanjut," ucapnya.
Exxon memprediksi masa puncak produksi minyak Lapangan Banyu Urip yang mencapai 220.000 bph bisa berlangsung hingga 2021. "Kita prediksi, dalam kondisi sekarang bisa tiga tahunan lagi," tutupnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan