kumparan
21 Sep 2019 17:49 WIB

Rhenald Kasali: Ada Mobil Listrik, Tantangan Bagi Pertamina

Mobil listrik karya ITS di kantor PLN, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (3/9). Foto: Helmi Afandi/kumparan
Presiden Joko Widodo telah meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Berdasarkan aturan tersebut, Jokowi berniat mempercepat penerapan mobil listrik di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Guru Besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menilai kebijakan tersebut sangat strategis. Sebab, dengan banyaknya mobil membuat konsumsi BBM di masyarakat bisa berkurang.
"Nanti ngisi bensinnya akan muncul SPKLU, bukan lagi SPBU. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum," kata Rhenald di Plaza Senayan, Jakarta, Minggu (21/9).
Namun, dengan banyaknya mobil listrik juga menjadi tantangan tersendiri untuk Pertamina. Ia mengatakan perusahaan minyak dan gas BUMN tersebut harus mulai bersiap diri menghadapi industri kendaraan listrik.
"Pertamina harus segera menyesuaikan diri. Jadi harus siap menghadapi industri baru ini. Tidak bisa misalnya hanya mengandalkan pada SPBU saja," katanya.
Meski penerapan mobil listrik tidak dalam waktu dekat, Rhenald meminta Pertamina tidak terlena. Sebab, sudah seharusnya perusahaan tersebut bersiap diri menghadapi perubahan.
ADVERTISEMENT
Dia menyarankan Pertamina tidak ragu bekerja dengan pihak-pihak yang konsentrasi di kendaraan listrik.
"Maka itu Pertamina kelak harus mencari sumber-sumber pendapatan baru untuk menutupi pemakaian BBM di kemudian hari dan berkolaborasi dengan perusahaan listrik," katanya.
Rhenald Kasali di Kantor Wapres. Foto: Kevin Kurnianto/kumparan
Selain itu, Rhenald merasa semua industri yang bergerak dalam bidang kendaraan listrik sudah bersiap. Salah satu yang diperhatikan, adalah mengenai baterai kendaraan listrik.
"Hanya saja hari ini harga masih mahal karena PP turunannya belum keluar yaitu bagaimana insentif yang diberikan pada industri sehingga lebih menggunakan listrik. Nah nanti akhirnya baterai akan lebih murah akhirnya," ungkap Rhenald.
Saat komponen pendukung itu murah, Rhenald merasa hal itu bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik. Ia menegaskan banyaknya kendaraan listrik yang digunakan akan membuat konsumsi BBM jadi menurun.
ADVERTISEMENT
"Nah ini akan menyelamatkan kita sehingga tidak memerlukan impor BBM sebanyak kemarin. Tetapi kita memerlukan energi alternatif mencari sumber daya alam baru apakah panas bumi, apakah itu tenaga air untuk menghasilkan listrik murah," ujarnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan