Pencarian populer

RI Bakal Impor Gas di 2019, Kok Malah Mau Ekspor ke Bangladesh?

LNG (Foto: Wikimedia Commons)
Berdasarkan Neraca Gas Bumi Indonesia Tahun 2016-2035 yang diluncurkan Kementerian ESDM pada 4 Mei 2017 lalu, Indonesia mulai impor gas pada 2019. Dua tahun lagi, total pasokan gas dari dalam negeri sebesar 7.651 MMSCFD.
ADVERTISEMENT
Sedangkan permintaan gas mencapai 9.323 MMSCFD, sehingga harus impor sebanyak 1.672 MMSCFD. Pada 2020, suplai gas domestik sebesar 7.719 MMSCFD, sementara total permintaan sebesar 9.396 MMSCFD. Maka butuh impor gas 1.677 MMSCFD.
Impor semakin besar pada 2025, yakni mencapai 3.552 MMSCFD. Sebab, suplai dari dalam negeri diperkirakan sudah menurun menjadi 5.712 MMSCFD sementara permintaan di tahun yang sama sebesar 9.263 MMSCFD.
Di 2035, impor sudah melampaui produksi gas di dalam negeri. Produksi gas hanya 3.469 MMSCFD, sedangkan permintaan di dalam negeri 8.816 MMSCFD sehingga perlu impor 5.348 MMSCFD.
PT Pertamina (Persero) pun sejak 2014 lalu telah menandatangani kontrak impor gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) sebesar 1,5 juta ton per tahun dari Cheniere Corpus Christi, perusahaan asal Amerika Serikat (AS).
ADVERTISEMENT
Kebutuhan gas domestik bakal melonjak terutama karena adanya program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Setidaknya 25% dari pasokan listrik akan berasal dari pembangkit gas.
Tapi ketika konsumsi di dalam negeri diperkirakan semakin meningkat, Pertamina justru menjajaki ekspor LNG ke Pakistan dan Bangladesh. Rencananya, kedua negara itu akan menerima pasokan LNG sekitar 1 sampai 1,5 juta ton per tahun dengan taksiran nilai USD 6 miliar.
Meski demikian, Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas Kementerian ESDM, Ego Syahrial, menegaskan rencana ekspor LNG oleh Pertamina ke dua negara di Asia Selatan itu tak akan mempengaruhi ketersediaan gas bumi dalam negeri.
"Kita sampai sekarang masih tetap ekspor, ketersediaan kita masih aman. Kita enggak mungkin ekspor kalau ketersediaannya sendiri tidak aman," katanya kepada kumparan (kumparan.com), Jumat (19/1).
ADVERTISEMENT
Menurutnya, perhitungan dalam neraca gas yang ada sekarang tak akurat. Indonesia belum akan menjadi importir gas dalam waktu dekat. Buktinya, sampai sekarang masih banyak LNG yang tak terserap di dalam negeri.
"Enggak, itu salah (perkiraan neraca gas bumi). Sesuai kondisi sekarang, enggak ada kita harus impor LNG. Kemarin itu perhitungan kebutuhannya lebih tinggi, produksi gas kita juga tambah kan," ucapnya.
Ego menambahkan, ekspor LNG yang dilakukan Indonesia setiap tahunnya menurun, sementara produksi gas bumi dalam negeri ke depan akan naik. Dengan demikian, tidak akan terjadi krisis gas di dalam negeri.
"Cadangan gas bumi dalam negeri masih aman. Enggak ada itu (kita harus impor LNG di 2019)," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86