kumparan
29 Jan 2019 20:31 WIB

Ritel Banyak yang Gulung Tikar karena Kurang Inovasi

Ilustrasi Giant Supermarket. (Foto: Flickr)
Tutupnya sejumlah toko ritel dalam beberapa tahun terakhir dinilai karena kurangnya inovasi. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan sebuah toko ritel tidak bisa bertahan kalau tidak diikuti dengan inovasi baru.
ADVERTISEMENT
Ketua umum APPBI, Stefanus Ridwan, mengatakan saat ini selera masyarakat cenderung berbeda. Selain itu, pola konsumsi juga mulai berubah sehingga banyak ritel yang ditinggalkan.
“Masyarakat cenderung tidak mau sama dan menginginkan sesuatu yang unik. Kalau toko ritel tidak bisa berinovasi, atau minimal dari sisi produknya tidak mengikuti selera pasar, maka akan susah untuk bertahan,” katanya kepada kumparan, Selasa (29/1).
Menurut Stefanus, tingkat kunjungan pembeli ke mal saat ini masih belum menurun. Meski begitu, dia mengaku perbedaan tingkat kunjungan masyarakat ke tiap mal atau toko ritel berbeda. Hal itu tergantung dari cara mal atau toko ritel menarik para pengunjung untuk datang.
Outlet 7 Eleven Fatmawati tutup. (Foto: Mustaqim Amna/kumparan)
“Misalnya saja Mal Kota Kasablanka, kan enggak pernah sepi karena apa? Ya pihak mal terus aktif mengadakan ragam kegiatan dan mengundang komunitas. Nah, toko ritel juga seperti itu,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, digitalisasi juga perlu untuk meningkatkan jumlah pembeli. Sebab, era digitalisasi yang tengah berkembang seperti sekarang ini menuntut toko ritel juga harus menerapkan sistem omni channel dalam menjalankan bisnisnya.
“Kalau digital harus. Online ini kan yang buat persaingan bisnis ritel sekarang jadi berat. Kita harus bersaing dengan mereka yang serba cepat dan instan, mau atau tidak kita juga harus ikuti sepert mereka,” ujarnya.
Dalam dua tahun terakhir banyak toko ritel yang gulung tikar. Dari mulai Seven Eleven atau Sevel, Lotus, Giant, Central Department Store, hingga Centro Departement Store.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan