kumparan
8 Jan 2019 17:06 WIB

Sri Mulyani: Sulit Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen di 2019

Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Perlambatan ekonomi global yang terjadi saat ini dinilai masih akan memukul sisi suplai dan permintaan domestik. Akibatnya, target asumsi makroekonomi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 dirasa sulit untuk dicapai.
ADVERTISEMENT
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,3 persen akan sulit dicapai. Dia memproyeksi perekonomian hanya akan mampu tumbuh sedikit di atas 5,15 persen.
"Tahun 2019 trennya seperti ini, pertumbuhan ekonomi momentum terjaga, dan APBN kita 5,3 persen akan sangat berat di demand dan supply. Ada downside risk di atas 5,15 persen," ujar Sri Mulyani di Hotel Ritz Carlton Pacific Place Jakarta, Selasa (8/1).
Tak hanya perekonomian, nilai tukar rupiah juga diperkirakan akan lebih menguat. Padahal dalam asumsi APBN 2019, nilai tukar rupiah dipatok Rp 15.000 per dolar AS.
Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, saat pemerintah mematok kurs Rp 15.000 per dolar AS tersebut, kebijakan moneter Bank Sentral AS atau Federal Reserve masih ketat, belum longgar seperti yang dikatakan Ketua The Fed Jerome Powell awal bulan ini.
ADVERTISEMENT
"Exchange rate angkanya Rp 15.000. Pas kita bikin Rp 15.000 nilai tukar kita melorot, makanya ada adjustment. BI saat itu assesment Rp 15.000 itu within reach. Saat Powell bilang kami akan bersabar, maka suku unga AS enggak se-ekstrem yang dibayangkan, jadi ini berubah lagi. Statement Powell ini kemarin, perubahan berganti. Jadi mungkin apresiasi lebih baik," katanya.
Ilustrasi bongkar muat semen di pelabuhan. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
Selain itu, harga minyak mentah yang diproyeksi sebesar USD 70 per barel selama tahun ini juga akan meleset dari target. Sebab menurut Sri Mulyani, saat ini anggota negara-negara produksi minyak atau OPEC berkomitmen untuk mengurangi stok minyak.
Kondisi tersebut, kata Sri Mulyani, akan mempengaruhi harga minyak mentah Indonesia. Akibatnya, hal itu akan memukul penerimaan dalam APBN, utamanya dari penerimaan migas.
ADVERTISEMENT
"Excess supply terjadi, AS produsen migas, dan harga minyak jatuh. Kita lihat harga minyak dan komoditas tak akan seperti 2018. Pasti ini akan pengaruhi growth, pajak kita," jelas dia.
Meski demikian, kata dia, Indonesia masih memiliki harapan di tahun ini lantaran beberapa infrastruktur yang sudah selesai. Hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi Indonesia dimata dunia.
Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) juga dinilai baik. Berbeda dengan negara lainnya yang justru diintervensi oleh kepala negara.
"Indonesia ini di-discriminate dan dilihat. Growth tinggi, dan policy-nya pragmatis dan fleksibel. Bagi negara lain naikkan suku bunga malah dimarahin presiden, kayak Turki, Argentina. Nah Indonesia negaranya 'genah' nih kalau bahasa Jawa, bagus hasilnya," tambahnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan