Pencarian populer

Wall Street Ditutup Bervariasi Imbas Harga Minyak Tertekan

Ilustrasi Wall Street (Foto: Pixabay)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street berakhir variasi pada penutupan perdagangan pekan lalu. Harga minyak dunia yang tertekan berdampak pada saham sektor energi, di sisi lain saham ritel dan produsen chip mengalami kenaikan.

Dilansir Reuters, Senin (28/5), indeks Dow Jones (DJIA) kehilangan 58,67 poin atau 0,24% ke posisi 24.753,09. Indeks S&P 500 (SPX) turun 6,43 poin atau 0,24% ke posisi 2.721,33. Sementara indeks Nasdaq (IXIC) menguat 9,43 poin atau 0,13% ke posisi 7.433,85.

Selama sepekan, Dow Jones berhasil naik 0,2%, indeks S&P 500 menguat 0,3% dan Nasdaq meningkat 1,1%.

Harga minyak Brent melemah USD 2,35 atau 3% menjadi USD 76,44/barel usai Arab Saudi dan Rusia sepakat akan mengurangi pengendalian pasokan yang mendorong harga ke level tertinggi sejak 2014.

Indeks sektor saham energi S&P melemah 2,6% dan mencatatkan penurunan terbesar sejak awal Februari. Sektor saham energi yang tertekan tersebut dipicu saham Chevron yang turun 3,5% dan saham Exxon Mobil melemah 1,9%. Keduanya berkontribusi besar menekan indeks saham Dow Jones dan S&P 500.

Ilustrasi Wall Street (Foto: Wikimedia Commons)

"Ini adalah minggu yang sangat besar untuk minyak. Hal itu menekan saham-saham perusahaan energi. Pada saat yang sama, imbal hasil yang berlanjut menekan sektor keuangan," ujar Michael James, Direktur Pelaksana Wedbush Securities.

Indeks saham S&P 500 melemah 0,4% usai imbal hasil surat utang AS sentuh level terendah dalam tiga minggu.

Selama sepekan lalu, Wall Street juga bergejolak oleh ketegangan negosiasi perdagangan antara AS dan China, yakni ancaman AS untuk memberlakukan tarif pada mobil impor dan ketidakpastian atas KTT AS-Korea Utara.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pertemuan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un masih dapat berlangsung pada 12 Juni sesuai rencana semula.

Indeks saham Nasdaq menguat didorong saham produsen chip. Saham Broadcom naik 2,7%, saham Intel menanjak 1,3% dan saham Foot Locker melonjak 20,2% mendorong indeks saham S&P 500 naik 0,2 persen. Penguatan saham Foot Locker didorong laporan kinerja laba lebih baik dari perkiraan. Selain itu, sektor saham ritel juga mengalami kenaikan 0,2%.

Adapun volume perdagangan saham lebih kecil menjelang libur panjang. Volume perdagangan saham teratat 5,8 miliar saham di Wall Street, lebih rendah dibandingkan rata-rata harian selama 20 hari sebanyak 6,6 miliar saham. Wall Street tutup pada Senin untuk memperingati Memorial Day atau Hari Pahlawan di AS.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23