Pencarian populer

Ada Daya Ledak Dusan Tadic di Balik Kebangkitan Ajax

Dusan Tadic, mesin gol untuk Ajax. Foto: Aris Messinis / AFP

Ajax Amsterdam di bawah asuhan Erik Ten Hag adalah hasil kawin silang antara pemain-pemain muda dan berpengalaman. Matthijs de Ligt dan Donny van de Beek menjadi salah dua pemain muda yang menunjukkan maginya. Sementara, Daley Blind dan Dusan Tadic adalah dua contoh pemain berpengalaman yang belum kehilangan daya.

Perpaduan itu berhasil mengantarkan Ajax sebagai kampiun KNVB Cup dan Eredivisie 2018/19. Gelar juara yang disebut terakhir begitu spesial karena menjadi torehan ke-34, sekaligus mengakhiri puasa lima tahun.

Bicara soal Tadic, pemain asal Serbia ini bahkan tampil sensasional di sepanjang Eredivisie 2018/19. Ia menciptakan 28 gol dan 13 assist untuk Ajax di sepanjang musim. Itu berarti, Tadic berkontribusi langsung dalam 41 gol dari 119 gol yang dicetak Ajax.

Dua torehannya itu yang tertinggi dibandingkan pemain mana pun di Eredivisie musim ini. Artinya, tak ada pemain yang membukukan gol dan assist lebih banyak ketimbang Tadic di kompetisi sepak bola Belanda paling elite itu sepanjang 2018/19.

Berhitung mundur, Tadic tiba di Ajax pada Juni 2018. Ajax mendatangkan pemain berusia 29 tahun ini dari Southampton senilai 13,4 juta euro. Angka itu sudah termasuk varibel lainnya di luar biaya transfer.

Tadic membuktikan bahwa ia bukan pemain jago kandang belaka. Babak 16 besar Liga Champions 2018/19 melawan Real Madrid menjadi salah satu scanner yang memvalidasi argumen tersebut.

6 Maret 2019, Santiago Bernabeu menjadi kelabu. Bagaimana tidak? Madrid yang menjadi kampiun tiga musim beruntun mesti menerima kenyataan bahwa mereka tak bisa melangkah jauh. Kekalahan 1-4 dari Ajax menjadi penyebab. Hasil minor di leg kedua itu mengubah kedudukan agregat menjadi 5-3 untuk keunggulan Ajax. Padahal, Madrid sudah menang 2-1 di leg pertama.

Pada partai itu, Tadic tampil spesial. Ia berperan sebagai false nine yang bertanggung jawab atas runtuhnya pertahanan Madrid. Permainannya begitu liar membuka pertahanan Madrid. Dua assist dan satu gol berhasil dikemasnya. Tak pelak, ia terpilih sebagai man of the match duel itu.

Pemain-pemain Ajax merayakan gol Dusan Tadic ke gawang Real Madrid Foto: REUTERS/Susana Vera

Jumlah gol yang bejibun di Eredivisie itu memang catatan yang menggembirakan. Yang lebih menggembirakan adalah bagaimana Tadic mengumpulkan gol demi gol tadi. Dalam formasi 4-3-3 racikan Ten Hag, Tadic punya peran sentral sebagai kreator serangan.

Selain assist tadi, peran ini ditunjukkan dengan rataan umpan kuncinya yang mencapai 2,6 per laga. Catatan itu terbanyak kedua dibandingkan pemain Ajax lainnya di Eredivisie. Yang menempati posisi puncak adalah Ziyech dengan 3,7 umpan per laga.

Di kompetisi liga, Ten Hag berulang kali memasang formasi ini: David Neres menjadi gelandang serang, sementara Tadic dan Hakim Ziyech mengisi kedua sisi sayap. Dengan susunan pemain yang demikian, Ajax begitu cair dalam mengkreasikan serangan. Alhasil, peluang demi peluang lahir.

Karena Neres cenderung bermain melebar, Tadic mengambil peran di area yang lebih sentral. Kecerdasan Tadic menjalankan maginya dengan piawai. Alih-alih memaksakan diri sebagai kreator serangan utama, Tadic lebih bermain menunggu hingga bola datang kepadanya.

Dusan Tadic rayakan gol di laga vs Bayern Muenchen. Foto: REUTERS/Toussaint Kluiters

Tadic seperti moksa saat Neres, Ziyech, ataupun Frenkie de Jong bekerja keras membuka serangan. Ini dilakukan supaya Tadic dapat menghemat energi untuk tampil menggebrak di sepertiga akhir.

Model seperti ini, salah satunya, muncul saat Ajax bertanding melawan Vitesse pada April 2019. Kala itu, Ajax menang 4-2. Dua gol yang dicetak Tadic memang berasal dari sepakan penalti. Tapi, ia berhasil menciptakan lima umpan kunci alias yang terbanyak di laga itu. Tadic juga membuat satu assist untuk gol pembuka Ziyech.

Bicara soal gol Tadic, Squawka mengangkat fakta menarik. Torehan ke-28 Tadic itu membuatnya resmi menjadi pemain yang membukukan gol di 10 laga kandang terakhir Ajax secara beruntun di kompetisi liga.

Pencapaian ini menyejajarkannya dengan para legenda seperti Johan Cruyff, Jari Litmanen, dan Bryan Luiz sebagai pemain yang sanggup mencetak gol di 10 laga kandang beruntun di pentas Eredivisie. Bila ditotal, di kompetisi liga musim ini, Tadic hanya gagal mencetak gol kandang di tiga pertandingan: melawan Heracles, Willem II, dan ADO Den Haag.

Segala yang dilakukannya membuktikan bahwa Ajax memang tak salah untuk memasang harapan tinggi padanya. Lebih dari itu, pencapaian ini juga membuktikan bahwa Tadic yang sekarang berbeda dengan Tadic yang diingat oleh orang-orang di Southampton sana.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23